Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Laporan Kondisi Kesukarelaan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global

The United Nations Volunteers (UNV) meluncurkan “Laporan Kondisi Kesukarelawanan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global (State of the World’s Volunteerism Report 2011: Universal Values for Global Well-being)” pada tanggal 5 Desember 2011 New York, Amerika Serikat. Laporan ini diharapkan dapat meningkatkan pengakuan, fasilitasi, dan promosi jaringan di seluruh dunia kesukarelaan. Ini juga akan meningkatkan pengakuan atas peran penting dari UNV sebagai organisasi yang menetapkan standar dalam damai dan pembangunan, serta kesukarelaan, dalam sistem PBB. Lanjut Baca »

Saya menjalankan vegetarian sekitar 4 tahun ini. Dan dlm 2 tahun terakhir tidak lagi makan telur. Vegetarian merupakan sebuah alat utk mencapai kesadaran. Pada prinsipnya hdup vegetarian adalah memahami keinginan-keinginan dan memutus kemelekatan terhadap sesuatu. Setelah berjalan sekian lama makan ini itu dan tidak makan ini itu menjadi suatu hal yg otomatis. Jadi kalau ada hidangan berisi ayam goreng atau ikan atau daging atau telor atau campur-campur maka hidangan itu lewat saja. Pilihan dengan sendirinya jatuh pada tempe, tahu, buah-buahan atau sayuran. Ketika ini terjadi tidak ada keinginan utk lebih atau penyesalan karena menghindari makan ini itu tersebut. Semua berjalan dg alami. Lanjut Baca »

Resensi Buku
Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan:
Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan

oleh
Djuni Pristiyanto

MPBI News, Jakarta, 7 Juni 2011
Resensi Buku:

  • Judul: Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan: Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan.
  • Judul asli: Minimum Standards For Education: Preparedness, Response, Recovery.
  • Penerbit asli: INEE (The Inter-Agency Network for Education in Emergencies).
  • Penerjemah: MPBI (Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia) & Plan Indonesia.
  • Penerbit dalam Bahasa Indonesia: MOC Publishing.
  • Jumlah halaman: iv + 164.
  • Tahun terbit: 2011.
  • Peresensi: Djuni Pristiyanto

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata “standar” berarti ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan, sedangkan kata “minimum” berarti yang paling kecil (sedikit, kurang) atau yang paling rendah (tentang nilai, harga, upah). Jadi disini arti kata “standar minimum” adalah ukuran paling rendah yang dijadikan sebagai patokan.

Dengan demikian buku “Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan: Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan” atau singkatnya disebut Standar Minimum INEE ini adalah berisi ukuran paling rendah yang dijadikan sebagai patokan untuk pendidikan pada saat kesiapsiagaan, respon (tanggap darurat) dan pemulihan. Lanjut Baca »

Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan: Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan
oleh
Djuni Pristiyanto

MPBI News, Jakarta, 6 Juni 2011
Buku “Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan: Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan” versi bahasa Indonesia telah diluncurkan secara resmi pada Senin (30/5) di Toko Buku Gramedia Matraman Lt. 2, Jakarta  Timur. Buku ini diterbitkan oleh The Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE) serta diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) dengan didukung oleh Plan Indonesia. Apakah itu buku “Standar-Standar Minimum untuk Pendidikan: Kesiapsiagaan, Respon, Pemulihan”? Lanjut Baca »

Film The King’s Speech

Kemarin saya nonton film “The King’s Speech” di Setiabudi 21 bersama istriku. Ini film yang sangat luarbiasa bagusnya. Sangking bagusnya kami berdua menonton dua kali berturutan. Disini ditunjukkan kekuatan akting, keakuratan sejarah, lokasi dan disain pakaian serta kekuatan kata-kata. Film “The King’s Speech” ini mendapat penghargaan Oscar sebagai film terbaik 2011, sutradara terbaik, aktor terbaik dan cerita asli terbaik.  Lanjut Baca »

Tujuan saya adalah hidup yang berkesadaran. Menyadari keinginan-keinginan. Menyadari pikiran-pikiran. Bangun. Sadar. Jadi, bertindak dan bekerja dengan kesadaran. Bekerja dengan kesadaran, memahami dan menyadari pikiran-keinginan-harapan-penilaian. Bekerja dengan kesadaran, bertindak dengan kesadaran. Hidup saat ini. Lanjut Baca »

Saya bervegetarian baru 3 tahun ini. Saya tidak tahu apakah saya vegetarian murni atau tidak. Bagi saya tidak penting istilah-istilah itu. Yang penting adalah saya tidak makan daging, unggas, ikan dan telor. Saya masih minum susu dan makan produk-produk olahannya karena ini dihasilkan tidak dengan membunuh binatang. Tapi kalau pas makan ada kecampuran bahan telor atau ayam ya saya singkirkan dan tetap dimakan hidangan itu. Kalau masih bisa milih ya tidak makan makanan-makanan itu. Biasanya sih tiap kali makan saya survey dengan mengaduk-aduk hidangan dan bertanya kepada tukang masak apa isi dari masakan itu. Dan biasanya pula saya tidak makan dan hanya minum saja atau makan buah-buahan, karena masakan yang dihidangkan dicampur dengan yang dipantangkan. Kalau sering berkegiatan di hotel-hotel pasti sering mengalami hal seperti itu. Lanjut Baca »

Pada pertengahan tahun 2009 Bangsa Indonesia mendapatkan kehormatan penting di bidang pengurangan risiko bencana (PRB), yaitu diperolehnya Sasakawa Award for Disaster Reduction dari United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) kepada Dr. Eko Teguh Paripurno (biasa dipanggil ET). Hal ini merupakan sebuah prestasi penting karena hingga kini baru Indonesia-lah satu-satunya di antara negara-negara di Asia Tenggara yang menerima Sasakawa Award for Disaster Reduction ini. Lanjut Baca »

Kawan-kawan Pemerhati dan Pelaku Penanggulangan Bencana,

Di bawah ini sebuah contoh modal sosial dari kalangan bawah kepada para penyitas dan penduduk terdampak erupsi G. Merapi. Sebuah tindakan kecil yg sangat menyentuh dan mengharukan, betapa antar sesama orang kecil sangat kental rasa empati dan setia kawannya.

Sekitar 3.350 perangkat desa (Perdes) dan warga masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Purworejo, Jawa Tengah mengorganisir dan menyampaikan bantuan kepada para penyitas dan penduduk terdampak erupsi G. Merapi. Para Perdes ini mengetahui secara persis kondisi korban karena bersinggungan langsung dengan masyarakat. Lanjut Baca »

Para Pemerhati dan Pelaku Penanggulangan Bencana, 

Pada hari ini, Sabtu, 4 Desember 2010, pukul 08.00 WIB jumlah anggota Milis Bencana menembus rekor angka 3.000, tepatnya ada 3.023 anggota. Milis Bencana berdiri pada tanggal 22 Agustus 2007 dengan tujuan sebagai ajang diskusi dan berbagi ttg isu-isu penanggulangan bencana (PB). Milis ini dibuat dan dikelola oleh Djuni Pristiyanto. Pengelolaan dan moderasi Milis Bencana ini dilakukan secara mandiri, swadaya dan sukarela demi kepentingan kemajuan penyelenggaraan PB di Indonesia dan meningkatnya rasa aman dari bencana pada seluruh rakyat Indonesia. Lanjut Baca »

  On 13/10/2010 11:16, Djuni Pristiyanto wrote:

  • Peneliti kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Prof Dr HA Sudibyakto MS: banjir bandang yang melanda Wasior adalah hasil dari anomali cuaca. Anomali cuaca ini bertemu dengan degradasi lahan akibat pembalakan liar.
  • Pakar geologi Universitas Gadjah Mada Prof Dr Dwikorita Karnawati: Kawasan Wasior merupakan daerah yang menjadi langganan banjir bandang. Menurutnya, ada atau tidak pembalakan hutan, Wasior tetap akan terkena banjir bandang. Kawasan ini, imbuhnya terbentuk akibat banjir bandang yang terjadi dan bisa dikatakan selalu terulang selama jutaan tahun. Ia menyebutkan, apa yang terjadi di Wasior 4 Oktober lalu merupakan proses alamiah. Bencana banjir bandang di Wasior juga dipicu kondisi bentang alam berupa perbukitan tektonik.
  • Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan: menyatakan banjir bandang di Wasior bukan karena kerusakan hutan akibat pembalakan. Ia menyatakan, analisis atas banjir Wasior menyimpulkan, banjir disebabkan jebolnya sumbatan jalan air atau palung sungai di dalam sistem DAS Manggrai. ”Luas DAS Manggrai mencapai 2.065 hektar, kondisinya bagus. Dalam DAS itu tak ada HPH. Penyebab air bah bukan pembalakan atau pertambangan. Diduga, ada sumbatan palung sungai dalam DAS itu. Sumbatan itu terbentuk dari penumpukan batang kayu dan lumpur yang terus bertambah besar dan tinggi menyerupai bendungan. Pergerakan patahan bumi di CA Wondiboi membuat pohon tumbang dan akhirnya menyumbat palung sungai yang sekarang jebol. Namun, kami masih mencari di mana persisnya lokasi sumbatan itu.”

—————————–

Saya kok jadi semakin bingung bila membaca berita-berita di atas mengenai penyebab banjir di Wasior. Apakah ada yg bisa membantu menceritakannya dg bahasa yg mudah dimengerti oleh orang awam? Semakin canggih suatu penjelasan jadi semakin susah utk dipahami oleh org2 awam.

salam,
djuni

 On 11/10/2010 6:40, Mod Milis Bencana wrote:
> Kepala Konsorsium Pengurangan Risiko Bencana Dadang Sudardja
> mengatakan, dari seluruh provinsi, baru 16 provinsi yang sudah
> memiliki BNPB. Sementara itu, dari sekitar 500 kabupaten di seluruh
> Indonesia, baru 21 daerah yang memiliki BNPB.
———————————————-

Apakah ada yang tahu ttg “Konsorsium Pengurangan Risiko Bencana” seperti di atas? Menurut Konsorsium PRB ini di tingkat provinsi sudah ada 16 BNPB [sic], dan di tingkat kabupaten/kota baru ada 21 BNPB dari 500 kab/kota di seluruh Indonesia. Mungkin yang dimaksud kawan dari Konsorsium PRB dg lembaga ‘BNPB” di daerah (provinsi dan kab/kota) adalah BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).

Kalau ada yang tidak paham dg pengetahuan mengenai kelembagaan dan kebijakan serta hal-hal terkait dg upaya penyelenggaraan PB di Indonesia, siapa yg mesti bertanggung jawab?

salam,
djuni

Kang Sejo Melihat Tuhan
oleh Mohammad Sobary

Alm-Bp-SoerotoSaya tidak dapat menyebutkan satu per satu betapa saya berterima kasih atas segala doa dari Bapak, Ibu dan Kawan-kawan semua kepada Alm. Bapak Soeroto (nama Bapak saya) yg meninggal dunia pada hari Minggu, 28 Februari 2010 lalu di Caruban, Madiun, Jawa Timur. Walaupun tidak ada penyakit-penyakit berat, tapi karena usia tua (83 tahun) dan memang sudah kehendak Sang Pencipta maka Alm. Bapak Soeroto dipanggil utk segera menghadap ke hadirat-Nya. Semoga Alm. Bapak Soeroto dapat dilapangkan jalannya dan didudukkan bersama orang-orang mulia lainnya di sisi-Nya. Amin. Lanjut Baca »

Kebebasan dan Keterikatan

Dialog Dengan Diri Sendiri

Jiddu Krishnamurti
Diambil dari sebuah pertemuan di Brockwood Park 30 Agustus 1977

Aku menyadari cinta tidak dapat ada apabila ada rasa cemburu; cinta tak dapat ada apabila ada keterikatan. Nah, apakah mungkin bagiku untuk hidup bebas dari kecemburuan dan keterikatan? Aku menyadari bahwa aku tidak mencintai. Itu sebuah fakta. Aku tak akan menipu diriku sendiri, aku tak akan berpura-pura mencintai istriku. Aku tak tahu apa cinta itu. Tetapi aku tahu bahwa aku cemburu dan aku tahu bahwa aku terikat sekali pada istriku dan bahwa dalam keterikatan itu ada ketakutan, ada kecemburuan, rasa was-was: ada rasa ketergantungan. Aku tak mau tergantung tetapi aku tergantung karena aku kesepian; di kantor dan di pabrik aku di suruhsuruh terus, lalu pulang dan ingin merasa nyaman dan mendapatkan teman, untuk Ian dari diriku sendiri. Sekarang aku bertenya pada diriku Sendiri: bagaimana aku bisa bebas dari keterikatan? Itu sebagai sebuah contoh saja. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.