Mbak Sylvie,
Makasih kiriman artikelnya. Membaca artikel ini saya jadi ingat dengan Ekspedisi Harimau Jawa tahun 1997 (EHJ 1997) yg dibuat oleh Kappala Indonesia di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). EHJ 1997 itu merupakan satu rangkaian dengan Pendidikan Lingkungan dan kegiatan lapangan utk mencari jejak EHJ dengan diikuti oleh lebih dari 50 orang pecinta alam dari seluruh Indonesia (kebanyakan sih dari Jawa).
Kegiatan EHJ 1997 ini merupakan titik awal perubahan besar aktivitas saya dari pencinta alam murni yang tahunya hanya naik gunung, arung jeram, caving, climbing dll menjadi aktivis lingkungan. Dalam kegiatan itu saya juga menyeret Didik “Jenggot” Raharyono (Fak Biologi UGM) utk ikut dan terlibat dalam EHJ 1997 ini. Di kemudian hari ternyata Didik Jenggot mempunyai peran sangat penting dalam mengarusutamakan “perburuan jejak harimau jawa” kepada kalangan yg lebih luas, perguruan tinggi dan pemerintah; tindakan Didik Jenggot ini tidak lagi hanya terfokus di TNMB saja tapi juga merambah di hutan-hutan di Gunung Kidul, Pati, lereng Gunung Slamet, dll. Didik Jenggot-lah yg dengan upaya diri sendiri menjadi pakar harimau “simbah-e” jawa, baik secara teori, praktik, mistik dan budaya.
Saya tertarik dengan kegiatan EHJ 1997 itu lebih karena tantangan petualangannya, yaitu masuk hutan perawan dan melacak jejak binatang buas. Dan saya rasa rata-rata motivasi umum para peserta kegiatan ini tidak berbeda dengan motivasi saya. Seluruh peserta yang lebih dari 50 orang itu dibagi menjadi beberapa kelompok utk melakukan tugas pencarian jejak, mengidentifkasi kotoran, mengamati burung. Kelompok saya ada sekitar 7 orang yang mulai berjalan dari Sukamade (dusun di tepi perkebunan yg saya lupa namanya) dari sisi selatan TNMB. Rute kelompok saya adalah dari Sukamade – menembus tengah TNMB – dan muncul ke sisi utara TNMB.
Selama perjalanan di tengah-tengah TNMB, mungkin saat itu di daerah inti TNMB, banyak kejadian yg kami alami. Kami berjumpa dengan sekelompok penangkap burung yang lari tunggang langgang karena mengira kami sebagai petugas TNMB. Gerombolan burung Rangkong yg suaranya menderu-deru mirip helikopter. Pohon2 rimba yg besar-besar sekali, tiga atau empat orang yg bergandengan tangan baru bisa mengelilinginya. Pohon pandan yg besar-besar. Jejak aneka binatang seperti rusa, kijang, babi hutan, macan tutul, dan mungkin harimau jawa. Kelompok kami menemukan jejak yg kami pikir jejak harimau jawa yg setelah dibuat plester-cast-nya sebesar piring. Juga ada berbagai macam kotoran hewan seperti babi hutan, rusa, musang, harimau. Kotoran harimau seperti isi buah durian (terpuntir-puntir) dan berisi rambut dan tulang. Ada beda ukuran antara macan tutul dengan harimau yang mana kotoran harimau bentuknya besar dan lebih banyak berisi rambut dan tulang binatang-binatang yang dimakannya.
Berikut ini beberapa link terkait dg Didik “Simbah-e” Raharyono sang pakar harimau jawa:
Ada banyak pengalaman saat berkegiatan di TNMB dulu. Tapi dari dulu sampai sekarang, saya tidak begitu tertarik utk terjun di isu lingkungan hingga detailnya, misalkan mengamati jenis2 burung, jenis2 tanaman, binatang dll. Saya terlibat secara umum saja dan saya kaitkan dg unsur manusianya. Kalau kawan saya yg bernama Didik “mbah Jenggot” Raharyono ini yg jago hingga kepada nama-nama ilmiah baik itu hewan maupun tumbuhan, utk tumbuhan obat pun dia sampai hapal dg kandungan khasiat.
Kalau kita berkegiatan cukup lama di dalam hutan maka kita akan mengembangkan kepekaan tertentu thd isi hutan itu. Jadi ketika saya ikut EHJ 1997 dulu itu kepekaan utk membaca jejak binatang, mengenali cakaran macan dan harimau di pepohonan, mengenali kotoran binatang muncul. Dan kepekaan ini penting dlm ekspedisi utk menemukan apa yg dicari, yaitu jejak2 harimau jawa. Baik di sisi selatan, timur, utara dan barat TNMB banyak ditemukan jejak2 harimau jawa itu, baik berupa kotoran (paling banyak), cakaran di pepohonan, tapak kaki dan rambut. Rambut harimau jawa ditemukan oleh Didik. Jejak cakaran harimau jawa di pohon bisa setinggi 2 meter (karena hal2 spt memang kami ukur dan dokumentasikan). Kotoran harimau jawa pun besar-besar.
Utk mengamati dengan lebih detail, eksperimen saat masih muda belia, saya memanjat pohon yg cukup besar dan mengikatkan diri di pohon itu. Dari sore hari sampai pagi hari berikutnya saya nongkrong di atas sambil berjaga dengan mengamati sekitarnya. Saya juga bawa binokuler (keker) utk mengamati lebih teliti. Sebenarnya menakutkan sih seorang diri, terikat di pohon sepanjang malam hanya utk melihat apakah sang harimau mau lewat di bawah pohon atau tidak. Dan ternyata memang sang harimau lebih pintar dari manusia yg coba-coba berusaha utk mengintainya karena sepanjang malam hingga pagi tidak ada satu pun jenis binatang (babi hutan, rusa, kijang, macan, harimau) yg lewat di bawah pohon itu. Pagi harinya saya turun dg perasaan ngantuk, tubuh sakit semua karena duduk nongkrong dan melek sepanjang malam. Tempat saya bermalam di atas pohon ini bila dilihat di atas peta mungkin berada di daerah inti TNMB.
Ketika berkegiatan di hutan saya suka jalan-jalan pagi hari. Suatu hari saya bereksperimen jalan-jalan pagi hari, sekitar pukul 5.30, dengan ‘nyeker’ (tidak pakai alas kaki) mengikuti rute jalan setapak. Utk amannya saya bawa HT dan peta kompas. Burung-burung berkicau dengan ramai. Ada tapak rusa dan babi hutan. Ada kotoran rusa dan kotoran musang. Tiba-tiba saya mendengar suara auman yg keras sekali. Saya langsung terduduk dan terdiam. Saya menggigil ketakutan. Ingatan saya otomatis menunjuk kepada sang harimau jawa yg sedang kami cari beramai-ramai. Sekitar setengah jam saya duduk diam tidak berani bergerak. Dan selanjutnya saya segera setengah berlari utk kembali ke flying camp dimana kami bermalam saat itu. Ini pengalaman mendebarkan yg terus saya ingat. Sebelum berkegiatan di TNMB ini para peserta EHJ 1997 semua peserta diajak ke Kebun Binatang Surabaya utk melihat secara langsung harimau sumatera dan berlatih membuat plester cast dari jejak harimau sumatera itu. Saya juga duduk beberapa lama mengamati tingkah polah harimau sumatera di kandangnya dengan hanya dipisahkan oleh jeruji besi (ini kandang di bagian belakang dan tidak terbuka utk umum). Seingat saya suara auman harimau sumatera di KBS sama-sama menggetarkannya dg suara auman yg saya dengar saat jalan-jalan pagi itu.
Dari pengalaman EHJ 1997 itu saya juga tahu kalau di dalam TNMB sendiri banyak sekali jalan setapak yg digunakan oleh para pemburu burung, pengumpul tanaman obat, pengumpul kluwek. Jalan-jalan setapak itu menghubungkan sisi utara ke selatan, karena penduduk banyak berada di sisi utara. Hal ini juga terkait dg para pemodal (bahasa Madura: borek) pada umumnya berada di daerah sisi utara dan barat laut TNMB. Modus operandi yg sering dipakai para ‘borek’ itu adalah pemburu burung atau pengumpul tanaman obat/kluwek diberik sejumlah uang oleh borek utk biaya selama pencarian di dalam TNMB dan biaya keluarga yg ditinggalkannya, kemudia mereka secara berombongan (antara 3 s/d 8) masuk TNMB dari sisi utara ke sisi selatan utk melakukan tugasnya dengan berjalan kaki, dan kemudian balik lagi ke dusunnya utj menyetorkan hasil tangkapan kepada ‘borek’nya tsb. Para pemburu burung atau pengumpul tanaman obat/kluwek itu bisa sekitar satu minggu di dalam hutan. Pemburu burung di TNMB menangkap burung dengan cara memasang ‘pulut’ (getah pohon) di tempat burung-burung biasa tinggal. Jadi bila pada pohon-pohon besar tertentu di dalam TNMB ada pasak-pasak dari bambu maka itu sudah pasti adalah hasil karya para pemburu burung utk memasang ‘pulut’ di dahan pohon yg sangat tinggi. Sementara itu burung-burung yg berhasil ditangkap oleh para pemburu burung dimasukkan ke dalam potongan bambu dan ditutup kedua sisinya dengan kain. Dalam kenyataannya banyak sekali burung yang mati karena kehabisan nafas dlm perjalanan pulang sang pemburu burung tsb.
salam,
djuni
On 21/02/2012 17:46, Sylvie wrote (di Milis Lingkungan):
>
> Ekspedisi TNMB telusuri jejak harimau Jawa
> Senin, 20 Februari 2012 11:22 WIB | 1252 Views
> Jember (ANTARA News) – Petugas Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) menelusuri kembali jejak harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) sejak Januari-Februari 2012 di kawasan hutan setempat yang berada di Kabupaten Jember dan Banyuwangi, Jawa Timur.
>
> Kepala Balai TNMB, Bambang Darmadja, Senin, mengatakan petugas TNMB sudah memasang lima kamera trap secara bertahap di tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) untuk mengungkap keberadaan harimau Jawa yang sudah dianggap punah di Meru Betiri.
>
> “Banyak kalangan yang sudah menganggap punah harimau Jawa, sehingga kami berusaha untuk membuktikan bahwa hewan langka itu masih ada di Meru Betiri dengan pemasangan kamera trap itu,” tuturnya di Kantor TNMB di Jember.
>
> Pemasangan kamera trap selama dua bulan difokuskan di tiga SPTN yang meliputi SPTN I Sarongan Kabupaten Banyuwangi, SPTN II Ambulu Kabupaten Jember, dan SPTN III Kalibaru Kabupaten Banyuwangi.
>
> “Setelah dilakukan penelusuran dengan memasang kamera di sejumlah lokasi dari lahan TNMB seluas 58 ribu hektare, maka petugas akan memfokuskan di beberapa titik saja yang diduga kuat sebagai habitat harimau Jawa,” paparnya.
>
> Koordinator Tim Ekspedisi Carnivora Besar TNMB, Alif Olia Ananda, mengatakan beberapa hal yang perlu disiapkan dalam pemasangan kamera trap yakni faktor keamanan dalam menjaga kamera itu karena beberapa tahun lalu kamera untuk memotret harimau Jawa itu hilang, sehingga perlu adanya antisipasi sejak dini.
>
> “Lima kamera trap itu dipasang di beberapa lokasi yang diprediksi menjadi kawasan berkeliarannya hewan karnivora besar itu dan tim juga melibatkan peneliti harimau Jawa untuk menentukan lokasi pemasangan kamera trap di Meru Betiri,” tuturnya.
>
> Ia menjelaskan, Tim Ekspedisi Carnivora Besar TNMB akan mengumpulkan sejumlah data sekunder tentang keberadaan harimau Jawa di Meru Betiri berupa jejak, kotoran, dan cakaran untuk mendukung data primer dalam pemasangan kamera trap tersebut.
> (KR-MSW/F002)
> Editor: Desy Saputra
>
> __._,_.___
>
>
> ===== Petunjuk Milis Lingkungan ===========
>
> Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa
> Berlangganan: lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
> Berhenti : lingkungan-unsubscribe@yahoogroups.com
> Milis Lingkungan tidak menerima segala bentuk ATTACHMENT, bila ada
> yang akan kirim ATTACH harap di-COPY & PASTE di BADAN EMAIL.
>
> ===== Motto:Lestari dan berseri Indonesiaku ======
>
> Arsip berita-berita lingkungan di Indonesia :
> http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/
> Berlangganan : berita-lingkungan-subscribe@yahoogroups.com
info yang menarik, ,