Kerangka Kerja Kota Siaga Bencana
Acara “Learning From Japan 4th Symposium 2012: Urban Society’s Vulnerability, Disaster Preparedness and Mitigation In Indonesia and Japan” pada tanggal 21 Februari 2012, di Pusat Studi Jepang UI, Depok membahas pengalaman dan upaya-upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan ini dilakukan oleh Jepang dan Indonesia yang sama-sama mempunyai karakteriktik ancaman bencana mirip dan pengalaman berkali-kali dihajar kejadian bencana dan bangkit dari keterpurukan bencana.
Salah satu narasumber dalam acara tersebut adalah Andi Oetomo dengan memaparkan konsep-konsep “Kerangka Kerja Kota Siaga Bencana”. Andi Oetomo adalah staf Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, SAPPK ITB dan Pusat Penelitian Mitigasi Bencana, LPPM ITB.
Menurut Andi, Kota Siaga Bencana adalah kota yang siap menghadapi serangan semua jenis bahaya/hazard yang mengancam dengan seluruh aspek kerentanan (fisik/lingkungan, ekonomi, sosial dan kelembagaan) yang rendah dan mempunyai kapasitas yang tinggi dari seluruh pemangku kepentingan kota untuk menanggulangai risiko dan dampak/kerugian yang timbul sehingga dapat kembali ke kondisi semula seperti sebelum terjadinya bencana secara relatif cepat. Dengan demikian keberhasilan menerapkan manajemen bencana di Kota Siaga Bencana secara utuh akan menjamin kota bertahanan bencana (resilient city) setelah kota yang bersangkutan terserang suatu bahaya/hazard tertentu.
Ada empat aspek untuk implementasi kerangka kerja Kota Siaga Bencana, yaitu (1) Mencegah/menghindari hazard, (2) Meningkatkan kapasitas respon gawat darurat, (3) Menghilangkan/mengurangi kerentanan, dan (4) Meningkatkan kapasitas rehabilitasi dan rekonstruksi. Andi mengembangkan semacam indikator umum guna implementasi keempat aspek itu.
Selain itu ada enam prinsip untuk merancang Kota Siaga Bencana agar menjadi Resilient City, yaitu keberagaman (diversity), redundancy, modularitas dan komponen sistem yang tidak saling tergantung, sensivitas umpan balik, kapasitas untuk adaptasi, serta tanggung jawab lingkungan dan keterpaduan.
[Berhubung point-point indikator dan prinsip itu cukup banyak maka tidak saya ketik dalam artikel pendek ini]
Di seluruh Indonesia belum sepenuhnya ada kota yang memenuhi indikator-indikator tersebut untuk dapat disebut sebagai Kota Siaga Bencana. Kota-kota yang memenuhi sebagian indikator di atas seperti Kota Banda Aceh, Kota Yogyakarta, Kota Cilegon dan Kota Bengkulu.
Andi Oetomo menyimpulkan bahwa kerangka kerja Kota Siaga Bencana ini harus mempertimbangkan:
- Tujuan/sasaran untuk ketahanan semua jenis hazards bagi semua komponen dan bagian wilayah kota.
- Kesenjangan antara kinerja ketahanan kota sekarang dengan tujuan/sasaran/target yang dicanangkan.
- Biaya yang dibutuhkan untuk membuat perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan atau retrofitting.
Untuk itu prioritas diberikan kepada tindakan-tindakan yang memberikan perbaikan terbaik pada kinerja ketahanan bencana kota dengan biaya terendah dan memenuhi prinsip-prinsip perancangan Kota Siaga Bencana menuju Resilient City.
Mari kita berdiskusi mengenai Kota Siaga Bencana dan Resilient City ini. Semoga artikel pendek di atas dapat menjadi bahan pemicu diskusi.
salam,
djuni
moderator milis bencana dan milis lingkungan