Saya menjalankan vegetarian sekitar 4 tahun ini. Dan dlm 2 tahun terakhir tidak lagi makan telur. Vegetarian merupakan sebuah alat utk mencapai kesadaran. Pada prinsipnya hdup vegetarian adalah memahami keinginan-keinginan dan memutus kemelekatan terhadap sesuatu. Setelah berjalan sekian lama makan ini itu dan tidak makan ini itu menjadi suatu hal yg otomatis. Jadi kalau ada hidangan berisi ayam goreng atau ikan atau daging atau telor atau campur-campur maka hidangan itu lewat saja. Pilihan dengan sendirinya jatuh pada tempe, tahu, buah-buahan atau sayuran. Ketika ini terjadi tidak ada keinginan utk lebih atau penyesalan karena menghindari makan ini itu tersebut. Semua berjalan dg alami.
Akan tetapi setelah sekian lama hidup bervegetarian ini maka rasa-rasanya “vegetarian” itu sendiri menjadi tidak penting. Yang sangat penting adalah memahami keinginan-keinginan yg selalu muncul setiap saat. Ketika ada proses pemahaman terhadap isi pikiran dan keinginan-keinginan itu maka dengan sendirinya hal itu akan lewat begitu saja. Tidak ada penyesalan atau kesedihan atau kemarahan. Itu seperti angin yg telah lalu, angin yg selalu berhembus dan lewat.
Dengan pemikiran seperti ini saya tidak lagi menjalankan vegetarian dg sepenuhnya. Dalam 2 hari ini saya mulai kembali makan telor dan ikan. Ketika saya makan telor atau ikan pun tidak muncul pikiran-pikiran yg aneh-aneh. Tidak ada perasaan berlebihan utk menambah ini atau ingin hal-hal yg lain. Situasi batiniah dan persepsi ketika bervegarian sepenuhnya dengan saat makan telor atau ikan ini ya sama saja. Dan yg sangat penting adalah melakukan “vegetarian sejak dari pikiran” atau dengan kata lain mengawasi isi pikiran yg selalu muncul dan memahaminya tanpa keterlibatan emosi atau perasaan. Dan akhirnya semua akan lewat begitu saja seperti angin yg telah berlalu.
Saya pikir semua ini juga merupakan buah dari menjalankan MMD sekian lama. Sekali lagi terima kasih Pak Hud. Salam sejahtera.