Tulisan di bawah ini hasil dari menulis dengan cara “menulis bebas”. Jadi setelah bangun tidur, mandi, meditasi duduk dan dilanjut dengan “menulis bebas”. Caranya adalah dengan bolpen di tangan dan kertas kosong menulis apa saja, tidak ada sensor, tidak ada arah, tidak ada tujuan. Asal saja menulis, entah itu berupa coret-coret tanpa makna maupun berupa kata-kata sepotong-potong. Menulis bebas secepatnya dan tanpa dibaca ulang dan tanpa direvisi dan tanpa menggunakan tanda-tanda baca. Bila ada kemacetan maka menggunakan kata “dan”, semakin macet maka kata “dan” akan semakin banyak atau biasanya berupa coretan tanpa makna.
Setelah menghabiskan dua atau tiga lembar kertas HVS A4 bolak-balik maka proses “menulis bebas” berhenti”. Waktu berhenti juga akan diketahui dengan sendirinya. Habis itu kertas-kertas yang penuh coretan itu disimpan. Lusa atau besok-besoknya baru di baca.
Ternyata sebagian besar isi coret-coretan “menulis bebas” seperti di bawah ini.
Semoga berguna.
salam,
djuni
blog: http://djuni.wordpress.com
————————-
Mengamati pikiran. Meditasi berjalan, duduk. Hidup sehari berkesadaran, tenang, bertenaga.
Perkawinan.Musim kawin. Sumbangan perkawinan. Cinta romantis, cinta berdasarkan keinginan-keinginan sendiri. Cinta yang akan terkelupas oleh waktu hingga menjadi cinta/benci yang sebenarnya. Cinta sejati berdasarkan kesejatian, tapi apa itu kesejatian? Semua berdasarkan keinginan. Amati keinginan maka keinginan akan lenyap, fana. Dunia adalah fana. Tidak ada keinginan hidup menjadi bening, terang. Sebagai manusia tetap ada keinginan, haus, lapar, mengantuk, tidur. Keinginan dasar untuk hidup sebagai manusia. Keinginan primer, sekunder, tersier. Dengan amati pikiran, keinginan menjadi lenyap apa pun keinginan itu primer, sekunder, tersier dan lain-lain. Pada dasarnya keinginan sama dengan pikiran. Pikiran menjadi diam, keinginan menjadi berhenti. Apa itu tetap sebagai manusia? Ya, tetap sebagai manusia. Manusia yang memahami dirinya sepenuh-penuhnya. Manusia paripurna.
Tidak aman dengan diri sendiri. Mencari. Perjalanan. Mencari perhatian dengan alihkan diri pada permainan. Rasa tidak aman memunculkan macam-macam keinginan. Topeng kepribadian. Keinginan menjadi hebat, kaya, miskin, terkenal, pintar. Keinginan positif, keinginan negatif. Pada dasarnya untuk menutupi kelemahan, kekurangan, kurang percaya diri. Dunia berkembang, dunia rusak hancur akibat keinginan manusia. Dipenuhi oleh diri sendiri dan oleh orang lain tanpa tenggang rasa, tanpa mempertimbangkan isi dunia, sumber daya alam. Manusia habiskan apa saja, rakus, emosional.
Perjalanan jauh. Jalan masih sangat panjang. Peradaban maju, mundur pencapaian ke dalam. Ke luar diri, apa yang disebut maju, apa yang disebut mundur, berdasarkan keingingan, harapan, kebutuhan, keserakahan, perjuangan, perkelahian, pembunuhan, pertumpahan darah. Karena apa? Keinginan. Baratayuda, Kurusetra, Ramayana, Bagawadgita. Rama Sita, Lesmana, Arjuna, Kresna. Memberi wejangan, memberi contoh kehidupan wayang, cerita dulu, sekarang, nanti. Interpretasi adalah perjalanan manusia. Manusia super, biasa, sedang-sedang saja, kurang. Manusia yang paham dengan dirinya sendiri adalah manusia yang paham akan keinginan-keinginannya, yang telah sadar, bangun dari pikiran.
Apakah sudah musim kemarau? Dimana-mana bencana. Kita hidup di bumi, di alam semesta yang hidup. Manusia kecil sekali di alam semesta yang maha luas, tapi merasa dan bertindak sebagai tuan atas segala sesuatu, yang merasa paling pintar, yang merasa sebagai penguasa atas segalanya. Klaim sepihak. Bila bumi bergerak, manusia tidak bisa berbuat apa-apa, malah jadi korban. Jadi apa maunya manusia, keserakahan, keinginan yang tidak paham dengan dirinya sendiri.
Agama pemberi kabar gembira. Kesejahteraan diri. Menjadi agama-agama terorganisasi, hilang esensi, hilang akar spiritual, yang penting-penting hilang, yang muncul dogma, organisasi, fanatisme. Kembali pada keinginan, agama menjadi tameng keinginan. Pembenaran bagi keinginan. Tidak paham dengan diri sendiri. Lalu apa, lalu bagaimana? Pada dasarnya khitah, kerinduan pada awal mula, rindu untuk paham dengan diri sendiri, yang adalah paham dengan keinginan-keinginan dan dengan pikiran sendiri. Padam keinginan, hening, sadar, bangun. Itulah dia.