Survey II untuk Gladimula XII
Djobolarangan, Lawu, Selasa, 17 Januari 1995, Jam 09.10
Lokasi: Lereng timur 2054 mdpl, pertigaan sungai, dekat pipa air ke Tlogodlingo.
Suhu: 18 derajat Celcius.
Peserta: Toet, Triman, Farid, Tijok dan Lethek.
Puncak Gunung Mongkrang (2147 mdpl)
Jam 14.00
Suhu: 14 derarajat Celcius (Farid bawa termometer).
Ngecamp, bikin 2 tenda.
Jam 18.00, suhu: 12 derarajat Celcius.
Jam 21.30, suhu: 12 derarajat Celcius.
Puncak Gunung Mongkrang (2147 mdpl)
Selasa, 17 Januari 1995, Jam 21.30
Tadi saya berapi unggun dari jam 17.30 – 21.00. Bila saya berkegiatan di gunung – hutan, saya suka sekali membuat api unggun. Saya suka berapi unggun seperti saya suka melihat matahari terbit dan terbenam.
Malam ini cukup cerah dan tidak berangin, sehingga udaranya jadi tidak begitu dingin. Tadi sore anginnya kencang sekali dan udara terasa dingin banget. Mungkin ini yang disebut faktor “wind cill” yang membuat udara terasa sangat dingin dan menggigilkan badan.
Jam 00.10. Belum bisa tidur! Suara angin tedengar keras. Udara terasa dingin. Toet dan Farid tidur di tendanya Farid. Triman, Tijok dan saya tidur di tendanya Wahju. Tijok dan Triman memakai sleeping bag, saya tidak pakai. Saya hanya pakai celana panjang dan kaos tebal. Tidak heran bila dinginnya udara terasa sekali. Badan lelah, tapi tidak bisa tidur.
Sekarang saya tambah perangkat utk tidur, yaitu kaos kaki dan jaket. Lumayanlah, terasa agak hangat.
Puncak Gunung Mongkrang (2147 mdpl)
Rabu, 18 Januari 1995, Jam08.00
Sepagi ini kabut sudah mulai turun. Suara angin lumayan keras. Udara cukup dingin. Bila kabut turun, kita sukar sekali utk orientasi medan.
Hari ini rencananya:
# Farid dan Toet hendak pulang ke Yogya, mungkin mampir ke Gunung Sidoramping utk melihat lokasi SAR.
# Triman, Tijok dan saya ke Gunung Djobolarangan, mungkin pulang ke Yoyga hari Jumat besok.
“Morning hs broken, like the first morning
Black bird has spoken, like the first bird”
Puncak Gunung Djobolarangan (2.248 mdpl)
Rabu, 18 Januari 1995, Jam 21.15
Malam ini kami ngecamp lagi di Puncak Gunung Djobolarangan. Di sini bersama Triman, Tijok. Triman sedang masak bubur ayam campur havermuut. Tijok sedang tiduran dan mengeluh punggungnya sakit, mungkin karena terlalu lama ditekuk katanya.
Tadi pagi berangkat dari Puncak Mongkrang jam 11.00. Farid dan Toet orientasi pulang ke Yogya. Saya bertiga orientasi ke Djobolarangan.
Hutan di sekitar Djobolarangan sangat tertutup, rimbun dengan semak-semak, pohon-pohon besar, lumut-lumut yang tebal-tebal, dan semak-semak berduri. Tampaknya daerah ini jarang sekali diinjak oleh kaki manusia. Tadi sempat menemui seekor rusa.
Siang sampai sore tadi kegiatannya cukup berat. Turun dari Mongkrang sambil ormed. Karena kabut dan medannya yang amat rapat, maka ormednya sukar sekali. Sempat berputar-putar sebentar. Kemudian ambil keputusan jalan lurus 230 – 240 derajat. Tijok jadi parangman, saya dan Triman jadi kosmpasman. Jam 13.00 istirahat sambil makan siang.
Jam 14.00 dilanjutkan lagi. Kali ini tujuannya adalah membuat jalur dulu utk ke Puncak Djobolarangan. Tijok dan Triman jadi parangman, saya jadi kompasman. Arah orientasi tetap pada 220 – 240 derajat.
Dari lembah potong lurus ke atas. Setengah jam sampai di daerah puncak. Setengah jam berikutnya turun lagi utk ambil tas. Utk naik ke tempat semula di atas butuh waktu satu jam. Jam 16.30 sampai di Puncak G. Djobolarangan.
Puncak Gunung Djobolarangan (2.248 mdpl)
Kamis, 19 Januari 1995, Jam 08.15
Suhu: 13 derajat Celcius
Udara cerah, matahari bersinar terang.
Sekretariat Mapagama, Gelanggang Mahasiswa UGM
Kamis, 19 Januari 1995, Jam21.30
Akhirnya kembali juga di Gelanggang. Yogya lagi.
Pagi ini di Puncak G. Djobolarangan diawali dengan cuaca yang sangat cerah dan tak ada angin. Kabut sesekali datang, namun lebih banyak terangnya. Maka ormed dapat dilakukan dengan tanpa kesulitan.
Jam 10.00 turun dari Puncak Djobolarangan. Jalan yang dilewati adalah jalan tol yang dibuat kemarin. Kemudian menuju ke Puncak Mongkrang. Sempat lepas jalur hingga sampai ke daerah Nguncup. Ketemu jalan naik waktu dengan Bebe dulu saat mau ke Puncak Mongkrang.
Jalan turun terus ke mata air. Jalan setapak memutari daerah ketinggian 2054 mdpl. Turun ke lembah yang rencananya mau dibuat Camp I. Namun tak ada air. Lalu jalan lagi ke 1773 mdpl, turun ke sungai utk melihat mata airnya dan ada air yg cukup lumayan.
Habis itu orientasinya pulang ke Yogya. Ongkos-ongkos Cemoro Sewu – Tawangmangu = Rp 750. Tawangmangu – Solo = Rp 1100.
Sampai di Gelanggang jam 19.30. Masak nasi, supermi dan sarden. Bikin minum hangat. Makan ramai-ramai. Makan kenyang.
Mandi membuat badan jadi segar. Sekarang jadi ngantuk.

Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan kata
yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana
dengan isyarat
yang tak sempat
disampaikan awan
kepada hujan yang
menjadikannya tiada.
— Lagu oleh Ratna Oktaviani —