Dua hari kemarin saya ber-SMS-SMS-an dengan seorang kawan perempuan. Dia seorang aktivis lingkungan yang sudah menikah tapi masih mengidolakan orang yang dulu pernah ditaksirnya. Berikut ini SMS-SMS dari saya kepada dia yang berisi nasehat dan kritikan dan bahkan kadang-kadang “jeweran” di kuping, dari seorang kakak kepada seorang adik.
- Hati-hati lho karena hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil. Lagi pula kamu masih idolakan dia. Itu awal dari ……….
- Saya hanya jadi cermin aja, kamu yang menjalani hidup mesti dengan sikap berkesadaran (awaraness). Bukan hanya dengan keinginan dan harapan saja.
- Tidak pakai itu, dia juga akan tetap ingat. Perlu diingat kalau kamu sudah dewasa dan nikah. Karena kamu idolakan dia maka akan lain cerita bila tidak mengidolakannya.
- Yup. Tapi jangan Ge-eR dulu. Tiap manusia dapat anugrah untuk melupakan. Jadi suatu saat dia akan lupa juga. Apa manfaatnya untuk terus diingat? Itu malah jadi tak perlu.
- Masalahnya selama ini tidak ada yang “menjewer” kupingmu. Nah sekarang saya yang “njewer” bahwa bersikap dewasa itu perlu pengorbanan dan kematangan diri.
- Kamu terlalu silau pada “kemilau” dia. Kamu belum tahu sisi-sisi buruknya. Coba diamati dengan teliti.
- Identitas diri yang sebenarnya dapat dilihat dari hal-hal kecil, ucapan, perilaku. Kuning tak selalu berarti emas, gila tak selalu berarti tak waras.
- Coba saja kamu cermati dia dengan lebih jernih. Belajar memahami orang lain = belajar memahami diri sendiri dan sebaliknya. Lepaskan ilusi, “no spoon” dalam film Matrix 1.
- Kalo saya pikir, kamu beruntung tidak jadi dengan dia. Arah hidup tak selalu sesuai dengan harapan kita, tapi nasib ada cara sendiri yang baik untuk kita. Koisidensi!
- Kamu kok selalu “mengipas-ngipasi” diri begitu sih. Namanya menaruh harapan kosong dan cenderung menjerumuskan.
- Kamu ini paradoks, apa yang dibilang dan dipikirkan berbeda dengan yang dilakukan. SMS-SMS tadi malam membutktikan ini. Jangan menipu diri sendiri.