Vihara Mendut, Magelang
Selasa, 2 Januari 2008
Retret MMD di Vihara Mendut berakhir
Jam 03.00 terdengar bunyi lonceng (bel) seperti biasanya. Saya terbangun, tapi berat sekali untuk bangkit. Ngantuk dan capek sekali. Akhirnya saya tidur lagi. Sekitar jam 04.00 ada azan Subuh. Kali ini saya bangun, cuci muka, ambil air wudlu dan melakukan sholat Subuh di atas kasur dengan selimut sebagai sajadah. Sekita jam 04.30 saya ke aula untuk melakukan meditasi bersama. Kali ini tinggal sedikit (tak lebih dari 10 orang) yang ikut sukarela melakukan meditasi bersama. Pagi itu ras sakit di kaki sudah agak berkurang dan ras kantuk dan capek masih terasa. Jadi saat saya melakukan meditasi duduk tidak sepenuhnya fokus seperti biasa.
Jam 06.00 meditasi disudahi oleh Pak Hudoyo. Pagi ini adalah penutupan secara resmi retret MMD selama tujuh hari di Vihara Mendut ini. Pak Hudoyo berceramah mengenai hal-hal apa yang perlu dilakukan setelah kegiatan ini selesai (ada 3 hal, tapi saya lupa isinya).
Jam 07.00 MMD ditutup secara resmi oleh Kepala Vihara Mendut. Banyak pesan-pesan yang sangat bernas, tapi sayangnya saya banyak juga yang tidak ingat. Nanti sambil jalan akan saya ingat-ingat hal ini.
Jam 08.00 berfoto-foto bersama. Makan pagi. Packing. Dan pulang ke rumah/tujuan masing-masing.
Di ruangan perpustakaan aula Vihara Mendut, di meja stupa ada tulisan: 
“The Budhist way of life is a graduated path: it has to be followed during every moment of our waking life, to enable us to do this, there must be Sati or Awaraness, constant mindfulness in all that we think or do or say. Religion is not for the temple only for the Uposatha-day. It is for always.”
Selama delapan hari di aula Vihara Mendut ini saya baru di hari ketujuh masuk ke ruangan perpustakaan itu. Saya baca pernyataan itu dan saya menemukan apa yang saya cari dalam tujuh hari bermeditasi di Vihara Mendut ini, yaitu:
“constant mindfulness in all that we think or do or say”
Kapada Pak Hudoyo Hupudio saya mengucapkan terima kasih yang tulus atas bimbingannya selama retret meditasi MMD tujuh hari ini dan waktu-waktu lain di luar acara ini.
Catatan:
- Berat badan turun drastis. Saat akan pulang saya pakai jam tangan (selama MMD tujuh hari saya tidak memaka jam tangan), dan ternyata lubang ikat jam tangan naik satu tingkat. Biasanya pada lubang ke empat pada tali jam tangan, tapi sekarang pada lubang ketiga. Itu pun masih terasa tidak sesak. Ikat pinggang pada celana panjang juga naik satu tingkat.
- Pada saat pulang naik bus saya lebih banyak menutup mata sambil melakukan meditasi. Ketika membuka mata dan melihat jalanan dan lalu lintas, mata dan kepala jadi terasa cepat pusing terhadap rangsangan dari luar. Dan melakukan meditasi di kendaraan umum tidak lah terlalu sulit.
> Jam 06.00 meditasi disudahi oleh Pak Hudoyo. Pagi ini adalah penutupan secara resmi retret MMD selama tujuh hari di Vihara Mendut ini. Pak Hudoyo berceramah mengenai hal-hal apa yang perlu dilakukan setelah kegiatan ini selesai (ada 3 hal, tapi saya lupa isinya).
——————————–
Topik untuk diskusi terakhir pada setiap retret MMD berjudul “What next?” atau “Dari sini mau ke mana?”
Di situ saya memberikan tiga pesan kepada para peserta retret, yang berisi tiga kiat utuk mempertahankan taraf kesadaran yang telah dikembangkan dalam retret. Tiga pesan itu, menurut pentingnya, adalah sebagai berikut:
(1) Cobalah tetap sadar akan segala fenomena badan & batin yang muncul dalam diri (“sadar ke dalam”), di samping memperhatikan hal-hal yang berlangsung di luar diri (“sadar ke luar”), KETIKA PIKIRAN TIDAK DIPERLUKAN.
Pikiran diperlukan untuk problem solving, dalam rangka mempertahankan kehidupan (survival).
Tapi, di sela-sela itu, banyak sekali saat-saat ketika sesungguhnya pikiran tidk diperlukan. Misalnya, saat duduk di kendaraan umum, saat makan sendirian, saat menunggu seseorang atau menunggu suatu acara tertentu, saat berjalan sendirian di pasar atau mal, dsb dsb. Biasanya pada saat-saat demikian pikiran ini dibiarkan melantur, melamun tanpa disadari.
Nanti akan terlihat, bahwa penggunaan pikiran untuk keperluan itu sesungguhnya tidak makan waktu terlalu banyak dalam kehidupan sehari-hari. Selebihnya, selama 17 jam bangun setiap hari, biasanya kita membiarkan pikiran melantur & melamun, mengejar keinginannya sendiri tanpa disadari/dielingi.
Nah, setelah mengenal MMD, cobalah sadar/eling pada saat-saat demikian. Maka hidup kita sehari-hari akan menjadi meditasi (sadar/eling) yang panjang, dan hanya diselang-seling saat-saat ketika pikiran diperlukan untuk problem-solving.
Inilah aktualisasi MMD dalam kehidupan sehari-hari yang paling penting. Bukan duduk diam 1 jam di suatu sudut ruangan yang hanya menghasilkan ketenangan semu kalau tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
(2) Yang kurang penting daripada #1 ialah: setiap hari, tanpa absen, menyisihkan waktu untuk duduk diam sekurang-kurangnya setengah jam lamanya. Ini ibarat kita men-charge lagi batere hp kita setiap hari sehingga hp bisa brfungsi secara normal.
(3) Yang paling kurang penting dari ketiga kiat itu adalah: secara berkala (setahun sekali, dua kali dst) ikut lagi retret MMD, mengembangkan kesadaran/keelingan secara total dengan mengasingkan diri dari kehidupan ramai.
Salam,
Hudoyo
Mas Djuni yth,
Silakan kunjungi situs web MMD yang baru diluncurkan 6 Oktober 2008 lalu:
http://meditasi-mengenal-diri.org
Salam,
hudoyo
Mohon Info Alamat nomor telpon dan tatacara jika jadi peserta.
Trimakasih
Pak Wijito,
Silahkan klik link berikut: http://meditasi-mengenal-diri.org/MMD_jadwal2009.html Uraian ada pada halaman itu.
Bagaimana pengalaman anda dalam melakukan meditasi?
salam,
djuni