Vihara Mendut, Magelang
Minggu, 30 Desember 2007
Hari Keenam MMD
Pada meditasi sesi dinihari – pagi tidak ada kejadian yang berarti. Secara umum saya cepat sekali masuk ke dalam kondisi meditatif yang cukup hening. Mendengar detak jantung sendiri. Rasa sakit di kaki tidak lagi terasa, tapi bila saya lama bermeditasi duduk maka pelan-pelan rasa sakit itu akan muncul lagi. Rasa sakit ini saya anggap sebagai “suar”.
Pada saat meditasi sesi pagi – siang saya tetap cepat masuk dalam kondisi meditatif. Saya bertanya-tanya kepada diri saya sendiri. Menurut Pak Hudoyo saya telah menemukan “guru sejati” saya. Terima kasih. Bagaimana untuk hidup benar (niat benar, berpikir benar, bertindak benar). Agama saya Islam, tapi saya hanya Islam KTP saja. Walaupun demikian saya dari kecil telah mengucapkan kalimat Syahadat: Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Saya juga disunat.
Saat itu sekitar jam 06.00 pagi. Cuaca sudah terang benderang. Tiba-tiba dari samping kiri saya terasa ada sesuatu yang menghalangi cahaya pagi masuk ke dalam ruangan. Sesuatu itu masuk ruangan dengan membawa cahaya sendiri yang terasa menerangi seluruh ruangan (ini seperti saat kita menutup mata dari suasana gelap terus ada lampu yang menyala, kita serasa dapat “melihat” cahaya atau tepatnya merasakan perubahan dari tidak ada cahaya ke adanya cahaya).
Lalu dari samping kiri saya, dekat telinga kiri, terdengar suara (atau kah hanya ada di dalam kepala saya saja?) yang berkata, “Assalamu Allaikum”. Secara reflek saya menjawab dalam hati, “Wa-alaikum Salam”. Kemudian terjadi semacam dialog seperti kemarin sebagai berikut:
- (#) Bila patung Budha esensinya adalah Budha yang Tercerahkan, lalu apa esensi dari Islam?
- (@) Esensi Islam adalah syahadat, sholat, puasa, zakat, haji.
- (#) Itu semua untuk memuliakan nama Allah. Begitu pula patung Budha adalah untuk memuliakan nama Budha.
Selanjutnya cahaya yang saya rasakan ada di seluruh ruangan perlahan-lahan meredup (“padam”) dan hilang. Selama beberapa lama saya melakukan meditasi duduk dan meditasi berjalan. Sekitar jama 07.30 saya memutus meditasi. Saya pergi ke kamar mandi untuk mencuci pakaian. Rasanya saat mencuci pakaian ini begitu “mengasyikkan” dan ksaya sepenuhnya tenggelam dalam kegiatan ini. Ini mungkin kejadian seperti hari Jumat lalu, yaitu “mencuci pakaian dengan kesadaran penuh”.
Pada saat mencuci pakaian itu tiba-tiba terlintas pikiran, “Kok saya meninggalkan ‘tamu’ saya di ruangan meditasi (di aula)?” Tapi kemudian muncul pikiran lain, “Tamu itu tidak kamu tinggalkan. Tamu itu ikut dengan dirimu. Tamu itu berasal dari dalam dirimu dan datang setelah kamu undang”. Setelah itu saya jadi tenang. Dengan kata lain, “tamu” itu tidak lain adalah “guru sejati” saya pula.
Habis mencuci pakaian, saya makan pagi dan minum segela teh. Dalam melakukan sarapan ini saya masih dalam kondisi meditatif. “Saya makan pagi dan minum teh dengan kesadaran penuh” sebuah pernyataan menyelinap di kepala saya. Dalam semua waktu itu dialog masih tetap berlangsung di dalam diri saya sbb:
- (@) Bila semua itu untuk memuliakan nama Allah, apakah perlu saya melakukan
sholat? - (#) Bukan perlu, tapi sebaiknya melakukan sholat. Ini adalah tindakan yang benar.
Saat makan pagi itulah saya memutuskan untuk mulai lagi menjalankan sholat. Ini saya lakukan dalam kerangka melakukan kegiatan dengan niat benar, pikiran benar dan tindakan benar. Pada saat makan pagi itu saya juga memperoleh pemahaman bahwa meditasi bisa dilakukan dimana-mana, tidak mesti di suatu tempat yang khusus untuk melakukan meditasi. Jadi oleh karena itu setelah selesai sarapan saya melakukan meditasi duduk di ruang makan itu juga.
Habis makan pagi saya berjalan ke arah aula tempat meditasi bersama. Niat saya adalah ke aula tempat meditasi bersama, tapi ternyata saya berjalan lurus dan duduk di atas kursi batu tanpa sandaran. Di depan saya ada sebuah patung Budha yang besar yang merupakan hadiah dari negeri sahabat (Jepang?). Patung Budah itu dikelilingi oleh kolam yang penuh dengan bunga teratai. Kursi batu ini pas benar untuk digunakan sebagai tempat duduk meditasi. Saya duduk di atas kursi batu dan melakukan meditasi.
Tampaknya suasana meditatif masih menyelimuti saya, sehingga dengan cepat saya dapat menjadi hening. Saya mendengar suara jantung saya yang berdegub kencang. Lebih dari biasanya kali ini saya jelas sekali mendengar suara degub jantung saya itu. Udara panas menyengat.
Saya sudahi meditasi itu dan berjalan di jalan conblok berlumut hijau (di sebelah gedung dan samping dalam pagar tembok) ke arah pohon beringin. Pohon beringin itu dilingkari dengan pembatas semenan. Daerah di sekelilingnya bersih luar biasa. Pohon-pohon bambu kuning terpangkas dan tertata rapi. Di sudut ada sebuah patung batu. Saya dekati dan amati. Ternyata patung itu adalah patung Sidharta saat bertapa di hutan Uruvela. Terlihat betul kulit membalut tulang. Saya menjadi tersentak karena seolah-olah melihat bahwa patung batu itu “tersenyum dan mengangguk” kepada saya. Apakah ini hanya perasaan saya saja? Kemudian saya amat-amati dengan teliti patung batu tersebut.
Patung “Pertapa dari hutan Uruvela” ini sangat realistis. Orang bisa salah mengira kalau yang duduk disitu adalah orang betulan dan bukannya sebuah patung batu. Saya tetap tidak yakin apakah pengalaman sesaat tadi itu hanya perasaan saja atau kah sangking realistisnya patung tersebut. Saya memberi hormat dengan menundukkan kepala kepada patung “Pertapa dari hutan Uruvela” ini.
Saya berjalan lagi dan duduk di atas kursi batu yang ada di bawah pohon. Suasana tenang, adem dan burung-burung berkicauan. Dari luar vihara terdengar kesibukan-kesibukan yang tampak tidak penting. Saya bermeditasi di atas kursi batu itu. Meditasi ini tidak berlangsung lama karena banyak gangguan kecil, seperti semut, lalat. Kemudian saya memutus meditasi dan berjalan ke arah aula dan saya melakukan meditasi duduk bersama peserta MMD yang lain. Saya bermeditasi di aula sampai jam 11.30.
Pada saat meditasi sesi siang – sore saya masih merasa “melayang”. Cepat sekali saya masuk ke kondisi meditatif. Banyak muncul keinginan yang tersembunyi atau halus sifatnya. Saya semakin dapat mengamati pikiran-pikiran yang halus. Rasa sakit di kaki jarang muncul. Siang hari itu saya melakukan sholat Dhuhur untuk pertama kalinya dengan niat yang benar dalam masa hidup saya ini. Saya terus bertanya-tanya pada diri sendiri tentang hubungan antara meditasi dan sholat.
Sesi meditasi sore – malam. Saat melakukan meditasi berjalan muncul pemahaman
tentang sifat dasar dari meditasi jalan, yaitu kesadaran terhadap gerak. Gerak mengalir terus menerus tiada terputus, seperti alun gelombang di lautan. Rangkaian gerakan itu aalah juga rangkaian perubahan dari saat ke saat. Dan pada akhirnya semua itu adalah fana (tidak kekal). Pada sore harinya saya melakukan sholat Ashar di aula tempat meditasi bersama.
Kemudian muncul pemahaman mengenai hubungan antara meditasi dan sholat. Sifat dasar meditasi dan sholat adalah sama, yaitu dilakukan dengan niat yang benar, sikap menerima dan pasrah total, kesadaran sepenuhnya pada semua unsur (konsentrasi menyebar). Pada sholat ada unsur gerak yang di dalam meditasi berjalan juga mirip sifat dasarnya, yaitu adanya kesadaran terhadap unsur gerak.
Sore itu saya melakukan sholat Magrib. Saya sepenuhnya menghayati saat melakukan sholat Magrib ini. Pada saat meditasi duduk setelah sholat Magrib, saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Nyaman sekali. Tiadanya rasa sakit di kaki membuat saya semakin “menikmati” keadaan ini. Tapi dampak dari itu semua membuat badan dan kepala semakin mendoyong ke depan. Terasa seperti diayun-ayun dan malah jadi terasa mengantuk. Beberapa kali saya berupaya untuk menyadarkan diri dari kenyamanan ini, tapi tak lama kemudian saya segera “tertelan” oleh kenyamanan dan ketenangan tersebut. Maka dari itu saya memutus meditasi duduk dan melakukan meditasi berjalan.
Pada saat diskusi jam 19.00 saya ceritakan pengalaman itu kepada forum. Komentar Pak Hudoyo mirip isinya dengan komentar pada hari Jumat lalu. Dari pagi pagi sampai malam itu badan saya terasa meriang, panas dingin.
pengalaman meditasi setiap orang tidak sama
sensasi-sensasi badaniah tidak dapat terhindarkan
namun konon kata para guru
hindarilah sensasi-sensasi badaniah tersebut
sebab bukan itu hasil dari tujuan meditasi