Vihara Mendut, Magelang
Sabtu, 29 Desember 2007, Jam 15.45
Hari Kelima MMD
Tadi sore sekitar jam 19.00 ada seorang peserta yang terpaksa tidak dapat melanjutkan MMD karena mesti pulang. Hal ini disebabkan karena ayahnya meninggal dunia. Malam itu jam 19.00 tidak ada diskusi dan ceramah dari Pak Hudoyo. Mungkin karena berita di atas dan tidak enak badan yang membuat Pak Hudoyo membatalkan acara diskusi dan ceramah. Setelah sesi meditasi malam (saya meninggalkan meditasi sekitar jam 21.00), saya membuat catatan-catatan jurnal harian.
Tadi siang saat sesi meditasi siang habis jam makan siang saya mengalami sesuatu. Seperti biasa saat habis makan (pagi/siang) dalam melakukan meditasi duduk saya perpanjang waktunya walau mengalami rasa sakit di kaki dan badan bagian bawah terguncang-guncang atau goyang ke sana-sini. Keringat saya mengalir deras. Kedua tangan jadi basah dengan keringat dan terasa lembab. Rasanya capek sekali. Lalu saya melakukan meditasi jalan dan kemudian diteruskan dengan meditasi duduk.
Di aula besar Vihara Mendut, tempat meditasi bersama MMD ini ada dua buah patung Budha yang besar (dari logam). Letak patung Budha itu yang satu berada di depan saya dan yang satunya lagi berada di sebelah kanan saya.
Saya paksa diri saya untuk konsentrasi agar pikiran jadi hening dan badan jadi diam tak bergerak-gerak. Meditasi terasa semakin mendalam. Badan pelan-pelan mulai doyong ke depan. Kepala menunduk. Saya tegakkan badan dan kepala, tapi kemudian kepala bergerak sendiri untuk menunduk. Dalam hal ini saya hanya bersikap pasif – menerima.
Terjadi semacam dialog di dalam diri saya sebagai berikut:
- (#) Tundukkan kepala.
- (@) Menundukkan kepala kepada patung batu? Patung Budha?
- (#) Bukan pada patungnya, tapi lihat esensinya.
- (@) Apa esensinya patung Budha? Budha Yang Tercerahkan?
- (#) Ya.
Kepala saya semakin menunduk dalam-dalam. Kali ini saya menundukkan kepala dengan niat menghormati esensi dari patung Budha, yaitu sang Budha, orang yang telah tercerahkan sempurna. Habis itu seolah-olah ada perintah, “Hormat pada Budha.” Kepala saya pelan-pelan dapat naik dan berposisi tegak lurus lagi.
Pada saat kepala saya menunduk ke depan seolah-olah disuruh menghormat pada
patung Budha, dengan tetap menunduk kepala secara perlahan kepala saya berputar dari arah depan yang menunduk itu, lalu bergeser/menoleh agak ke kanan dan kemudian berputar ke belakang dan samping kiri serta ke depan lagi dan berhenti. Ini artinya saya disuruh untuk menghormati esensi dari patung Budha yang ada di depan saya dan di sebelah samping kanan saya serta seluruh area di Vihara Mendut ini.
Saya merasa mendapat pesan untuk menghormati tempat ini, bahwa tempat ini dibangun untuk memuliakan nama Budha. Walau bagaimanapun juga, saya juga mesti menghormatinya. Saya juga merasa mendapat pembenaran kalau yang saya lakukan tadi pagi Saat sesi meditasi dinihari, saya mengantuk dan memutus meditasi duduk dan meninggalkan ruang meditasi bersama serta pergi ke kamar untuk tidur. Bahwa aula tempat meditasi bersama itu bukan tempat untuk tidur atau ngobrol atau hal-hal yang tidak semestinya, kecuali untuk menghormati sang Budha.
Sore harinya (sekitar jam 16.30) saya berkonsultasi kepada Pak Hudoyo. Saya ceritakan dengan antusias pengalaman tadi siang itu. Kata Pak Hudoyo,
“Anda mendapat hidayah, berkah. Petunjuk itu datang dari bawah sadar anda yang paling dalam. Itu adalah guru sejati anda.”
Sejak pengalaman itu tiap kali saya melakukan meditasi duduk, rasa sakit di kaki yang biasanya cepat datang meyerang kini mereda. Bahkan lama setelah meditasi duduk yang saya lakukan, rasa sakit di kaki itu juga tetap tidak muncul-muncul. Namun setelah sekitar 1 jam saya melakukan meditasi duduk, maka rasa sakit itu pelan-pelan mulai datang. Pada saat itu rasa sakit di lipatan lutut dan otot-otot paha/tungkai hilang dan diganti dengan rasa sakit pada pertemuan/persilangan antara dua kaki.
Sepanjang sore hingga malam saya menyadari bahwa badan saya terasa agak meriang (tapi bisa juga sejak satu hari sebelumnya sudah terasa rasa meriang itu). Malam ini saya merasa capek sekali. Habis meditasi sesi malam, saya langsung balik kamar, minum segelas jahe hangat dan pergi tidur.