Vihara Mendut, Magelang
Jumat, 28 Desember 2007, Jam 15.25
Hari Keempat MMD
Jam 03.00 kami dibangunkan oleh bunyi denting bel kuningan. Saya segera bangun, bangkit dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi untuk cuci muka. Bahkan dalam keadaan “setengah sadar” habis bangun tidur, proses pengamatan kepada pikiran tetap berjalan terus. Di dalam pikiran muncul:
“Udara dingin sekali. Tidak usah bangun. Tidur lagi saja. Pakai selimut rapat-rapat. Sekali-sekali bolos sesi pagi khan tidak apa-apa.”
Sambil tetap mengamati pikiran-pikiran yang muncul itu, saya berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Saya buang air kecil dan cuci muka, airnya dingin menyegarkan. Saya pakai sweater dan berjalan ke ruangan untuk bermeditasi bersama. Dan saya duduk untuk melakukan meditasi seperta para peserta lainnya.
Meditasi sesi pagi ini terasa berat sekali (jam 03.00 – 07.00). Badan masih sakit-sakit akibat meditasi tiga hari sebelumnya, ngantuk, capep, dan bosan. Saya berkali-kali menguap dan tidak dapat konsentrasi untuk melakukan meditasi duduk agak lama. Saya juga merasa lapar. Kali ini perut lapar menjadi rintangan yang besar sekali. Akibatnya saya hanya dapat sebentar-sebentar melakukan meditasi duduk yang kemudian saya ganti dengan meditasi berjalan.Tapi walaupun demikian saya dapat menepis godaan untuk rebahan/tiduran di lantai atau duduk di kursi atau diam melamun atau bahkan kembali ke kamar untuk tidur lagi. Saya paksa diri saya sendiri untuk dapat melakukan meditasi hingga waktunya (jam 07.00) berakhir.
Ketika meditasi sesi pagi – siang (jam 08.00 – 11.30) saya mulai dapat mendengar “detak jantung” saya sendiri. Hal ini tidak terjadi dengan mudah dan mulus karena rintangan rasa sakit masih tetap saja ada, capek, bosan, jemu, dan perasaan tidak berhasil. Setelah dengan penuh konsentrasi dan susah payah untuk mendengar “detak jantung”, saya akhiri meditasi dan saya lanjutkan untuk mencuci pakaian. Saya sangat “asyik dan terhanyut” ketika mencuci pakaian itu. Saat itu muncul pikiran:
Ini “tho” rasanya mencuci pakaian dengan kesadaran penuh itu.
Habis mencuci pakaian saya minum segelas teh hangat. Bahkan pada saat minum teh ini sangat terasa melakukannya dengan penuh kesadaran. Saya perhatikan ketika tangan bergerak untuk mengambil gelas teh terasa seperti gerak lambat (slow motion).
Pertanyaan:
- Pada saat baru bangun tidur (“setengah sadar”) kok bisa secara “otomatis” tetap
dapat mengamati pikiran-pikiran yang muncul di kepala? Pengamatan terhadap pikiran terus berlangsung walau respon terhadap pikiran itu tidak ada, karena badan juga secara otomatis (mungkin didukung oleh kemauan/kehendak) untuk segera menjalankan meditasi bersama lagi. - Meditasi pada sesi dinihari (jam 03.00 – 07.00) adalah yang paling berat dan
membosankan bagi saya pribadi. Badan sakit, capek, ngantuk, dingin, bosan dan rasa lapar. Saya amati ada proses berpikir dengan gambar, bukan dengan kata-kata. Kejadiaanya sebagai berikut: (1) Saya lihat sekilas sebidang ruang kosong di atas karpet di ruangan meditasi bersama, (2) Terbayang sesosok tubuh terbujur di atasnya (rebahan/tidur), (3) Muncul pikiran ,”Akan nyaman sekali kalau saya yang rebahan disitu.”, (4) Tergambar saya sudah rebahan/tidur di tempat itu. Bagaimana hal seperti ini terjadi? Apakah batin mewujudkan pengharapan/keinginan kita, walaupun keinginan itu sangat tersembunyi atau tidak disadari? - Dari hari pertama sampai hari ini saya terus mengalami rasa sakit di kaki. Bagi
saya meditasi duduk merupakan sebuah kerja keras dan upaya ekstra agar tetap dapat duduk dengan diam dan tenang. Bila serangan rasa sakit meningkat maka timbul rasa haus. Yang repot adalah ketika rasa sakit meningkat, maka rasa haus pun akan bertambah besar. Tapi bila saya hentikan meditasi duduk maka gejala-gejala itu akan hilang. Jadi: rasa haus ini apakah merupakan gejalan fisik atau kah gejala psikologi yang muncul dari batin?
Rasa haus itu timbul karena tubuh fisik mengisyaratkan ‘butuh’ air yang di respon oleh bathin.
Tatkala respon bathin ini disadari, maka rasa haus itu akan lenyap.
Begitu terus menerus bagaikan ombak laut yang saling menggulung.
Tak heran kalau ada pertapa yang sanggup dalam jangka panjang tidak makan dan minum.
Just my 2 cent,
sangwaktu