Pengantar,
Sekitar tahun 2000 untuk pertama kalinya saya ikut sebuah retret meditasi yang bernama Meditasi Mengenal Diri (MMD) selama 3 hari di Cisarua, Bogor. Sebelumnya saya tidak begitu tahu mengenai meditasi dan kalau toh pernah menjalankan meditasi itu karena belajar sendiri dari buku. Keikutsertaan itu lebih dikarenakan nekad dikarenakan konflik, baik yang terjadi dengan diri sendiri maupun dengan orang lain di lembaga. Namun walaupun tidak mengharapkan sesuatu hal yang terjadi guna memperbaiki keadaan, tapi dari retret meditasi tiga hari tersebut menimbulkan beberapa wawasan dan pemahaman tentang diri sendiri. Dan bila “kacamata” untuk memandang dunia menjadi jernih, maka dengan sendirinya banyak hal akan menjadi jelas tanpa suatu daya upaya yang mesti bersusah payah.
Selanjutnya karena dapat menarik manfaat dari retret meditasi itu, maka saya mendaftar lagi untuk ikut retret meditasi selama tujuh hari di Pertapaan Rowoseneng, Temanggung, Jawa Tengah. Pengalaman dan hasil retret meditasi di Rowoseneng dapat diklik disini dan disini serta disini. Di bawah ini adalah cerita singkat saya kepada pembimbing meditasi, yaitu Pak Hudoyo Hupudio mengenai hasil dan pengalaman retret meditasi tiga hari di Cisarua. Secara tak sengaja saya “menemukan” lagi artikel lama ini di Milis MMD; dan sekarang sengaja saya taruh di blog ini agar wawasan dan pengalaman yang saya peroleh dalam menjalankan meditasi dapat dilihat di satu tempat.
Salam,
Djuni Pristiyanto
(Jakarta sedang diguyur hujan dari malam sampai pagi ini, Jumat, 4 Januari 2007)
——————————————
Pak Hudoyo,
Saya mendaftarkan diri utk ikut meditasi 10 hari.
Setelah kembali dari Cisarua, saya secara rutin melakukan meditasi. Biasanya saya melakukan meditasi 2 kali, yaitu pada jam 5.30 – 6.00 dan 8.00 – 18.30. Sampai sekarang acara meditasi ini menjadi acara rutin saya sehari2, malah kalau sekarang meninggalkan meditasi terasa ada sesuatu yang kurang begitu. Bila dibandingkan sebelum ikut MMD di Cisarua, frekuensi meditasi bisa lebih meningkat; dalam seminggu biasanya lowong 1 atau 2 hari, kalau dulu malah dalam hitungan bulanan tidak melakukan meditasi.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ceritakan pada Pak Hudoyo. Akan tetapi tekanan pekerjaan (saya meninggalkan Jember utk ikut acara di Cisarua kemarin dan pada saat yang sama di organisasi saya sedang dalam kondisi krisis) menyebabkan saya tidak sempat utk melakukan aktivitas internet spt biasanya. Bahkan aktivitas saya dalam memforward berita2 dari koran sampai sekarang pun belum sempat saya lakukan.
Secara garis besar, kenekatan saya ikut acara di Cisarua membawa dampak yang positif bagi saya pribadi. Dan oleh karena saya memegang posisi pimpinan di organisasi saya, maka dampak positif ini berpengaruh pada lembaga saya pula.
Selain itu, obsesi utk “perbaikan diri” yang bersumber dari buku2 Self Help saya tinggalkan di Cisarua kemarin
Setelah kembali di kostan, saya kumpulkan buku2 Self Help dan ada sekitar 40 cm tingginya kalau saya tumpuk ke atas. Semua buku itu sekarang masuk kotak tanpa ada perasaan sesal.
Terima kasih.
salam,
djuni lethek
—————————
DARI HUDOYO:
Mas Djuni yg baik,
Terima kasih banyak atas surat Anda. Wah, sudah lama saya tunggu-tunggu berita dari Anda. Saya bertanya-tanya dalam hati, ke mana Mas Djuni selama ini, yang dulu sering mengirimkan kliping koran ke milis-spiritual, lalu yang pada bulan Juni lalu nekat datang dari Jember hanya untuk mengikuti MMD 3 hari di Cisarua; lalu dalam MMD itu Anda mengalami reaksi hysteria (kejang-kejang), yang berasal dari konflik yang tertanam dalam di lubuk jiwa Anda dan yang mulai terkuak sedikit demi sedikit dalam praktek MMD. Saya ingat Anda mempunyai suatu obsesi besar untuk “memperbaiki diri” dengan membaca berpuluh buku Self-Help, macam “The 7 Habits of Effective People” (Stephen Covey), “How to Win Friends and Influence People” (Dale Carnegie) dsb.; bahkan kenekatan Anda mengikuti MMD ini Anda akui juga pada mulanya adalah “dalam rangka perbaikan diri” itu. Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana keadaan Mas Djuni setelah kembali ke Jember; apakah masih berlatih MMD atau tidak; apakah mengalami lagi kejang-kejang atau tidak, dsb dsb.
Sungguh lega dan berbahagia saya membaca surat Anda. Sekalipun saya bukan guru meditasi dalam arti sesungguhnya, hati siapa yang tidak akan berbunga-bunga
mendengar bahwa Anda sekarang melakukan MMD setiap hari secara teratur, sebagai bagian dari kehidupan Anda sehari-hari; bahwa Anda dengan spontan telah menyingkirkan buku-buku Self-Help yang dulu menjadi kitab suci bagi Anda.
Saya ingin mendengar cerita tentang pengalaman-pengalaman pribadi Anda yang lain nanti kalau kita bertemu di Rawaseneng dalam pelatihan MMD 10 hari. Kalau biasanya kepada calon peserta MMD 10 hari yang lain saya berikan tes skrining berupa 2 pertanyaan yang harus dijawab panjang lebar untuk dapat diterima sebagai peserta, saya rasa Anda tidak perlu dites lagi. Isi email Anda sudah cukup memberikan informasi kepada saya tentang motivasi Anda untuk mengikuti MMD 10 hari. Silakan ikuti pengumuman lebih lanjut tentang jadwal, cara mencapai lokasi dll, dan silakan datang ke Rawaseneng pada waktunya.
Salam hangat,
Hudoyo