Pengantar
Di bawah ini adalah kutipan dari catatan harian yang saya tulis pada hari Rabu, 22 Maret 1989 di Kostan, Mbarek, Utara Selokan Mataram, Yogyakarta. Topik tulisan ini adalah topik saat materi kelas yang disampaikan oleh Alm. Mas Bugie (nama lengkapnya: Bugie MH Kusumohartono) pada Materi Kelas persiapan EGM III di Sekretariat MAPAGAMA di Gelanggang UGM. Menarik sekali membaca kembali tulisan lama ini. Semoga berguna bagi kawan-kawan yang lain.
Salam,
Djuni Lethek
=======================
KOMUNIKASI DAN KEPRIBADIAN
Materi kelas persiapan EGM III, di Sekretariat MAPAGAMA, tanggal 22 Maret 1989 oleh Mas Bugie MH Kusumohartono.
Komunikasi
Tadi saat diklat materi ruang oleh Mas Bugie sangat menarik perhatianku. Isinya tentang “Komunikasi dan Kepribadian”. Hubungan tersendat-sendat itu karena sedikitnya komunikasi yang ada. Untuk menjalin hubungan lebih baik maka komunikasi dua arah amat diperlukan, terutama dalam organisasi. Komunikasi yang baik dapat menimbulkan “empathi”, yaitu rasa kepekaan terhadap sesuatu hal. Misalnya: dua orang saudara kembar, maka rasa empathinya besar. Yang lebih penting lagi adalah “rasa kepedulian terhadap sesuatu masalah” yang dihadapi bersama (tujuan kegiatan). Tujuan kegiatan harus dikembalikan pada misi semula. Contohnya: Mapagama.
Misi Mapagama adalah petualangan dan Tri Darma Perguruan Tinggi. Maka dari misi itu dapat dihasilkan seorang sarjana plus, yaitu sarjana yang mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu bila dibandingkan dengan sarjana biasa. Kelebihan-kelebihan ini dapat berupa kepekaan terhadap lingkungan atau sosial, ketrampilan tertentu, dll.
Jadi komunikasi yang baik merupakan salah satu penentu dalam suksesnya tujuan organisasi, di samping unsur-unsur lain (personel, kepemimpinan, organisasi, dll). Sekarang, bagaimana cara berkomunikasi yang baik itu?
Kepribadian
Ciri-ciri kepribadian ada empat, yaitu:
- Perilaku perlu diatur dan perlu didukung: pemimpin harus mengatur dan mendukungnya baik moril mauppun materil.
- Perilaku perlu diatur dan tak perlu didukung(mau, tapi merasa tak mampu): pemimpin sebagai pengatur atau memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan.
- Perilaku perlu didukung dan tak perlu diatur (mampu, tapi merasa tak mau): pemimpin sebagai penasehat (conseling).
- Perilaku tak perlu didukung dan tak perlu diatur (mandiri): pemimpin hanya mendelegasikan wewenang.
Pembatasan atas 4 ciri kepribadian di atas tidak mutlak, karena sifat manusia yang dinamis. Penggolongan ini hanya untuk memudahkan dalam mempelajari pola-pola kepribadian.
Evaluasi Diri
Dari hasil simulasi sederhana tadi dapat diambil kesimpulan bahwa aku punya tipe kepribadian yang:
- Tidak kreatif dan inisiatifnya kurang.
- Rasa percaya diri yang rendah.
- Komunikasi yang kurang (introvert atau kepribadian tertutup).
Jadi menurut kriteria di atas, aku termasuk yang nomor 2. Terus untuk pengembangan diri selanjutnya bagaimana?