Judul buku: Mereka yang Mengungsi: Komik tentang Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal
Penulis: Candra Gautama dan Nur Zain Hoe
Penerbit: Baris Baru dan Oxfam GB
Tahun terbit: 2002
Jumlah halaman: x + 67 halaman
Hilangnya rumah dan harta benda karena konflik atau bencana alam merupakan trauma yang harus dihadapi oleh jutaan manusia di seluruh dunia. Sebagian dari mereka harus melintasi perbatasan internasional dan dikenal sebagai pengungsi lintas batas (refugee), sementara yang lain mengungsi dalam batas wilayah negeri sendiri atau yang dikenal sebagai pengungsi internal (internally displaced persons). Di Indonesia, berbagai konflik bersenjata dan tindak kekerasan yang tejadi telah menyebabkan lebih dari satu juta warga menjadi pengungsi.
Nasib pengungsi selalu menjadi seperti layang-layang putus benangnya, menjadi “perebutan” berbagai pihak yang melihat keuntungan dari para pengungsi tersebut. Nasib pengungsi akibat bencana tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah dapat menggambarkan hal tersebut. “Pejabat yang terlibat pilkada pun memanfaatkan bencana untuk menarik pendukung. Pejabat yang satu menginginkan korban bencana ditampung di permukiman penduduk. Pejabat lain ingin para korban ditempatkan di tenda-tenda pengungsian karena sudah ada kontraktor” (Kompas, 6 Februari 2006)
Siapa para pengungsi internal? Apa hak-hak pengungsi internal? Siapa sajakah yang melindungi hak-hak para pengungsi tersebut? Apa sajakah prinsip-prinsip yang berkaitan dengan hak-hak pengungsi internal? Sedikit banyak, pertanyaan-pertanyaan ini akan terjawab oleh buku yang berjudul Mereka yang Mengungsi: Komik tentang Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal.
Buku Mereka yang Mengungsi: Komik tentang Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal ini terdiri dari tiga bagian, yaitu komik tentang pengungsi (hal. 1 – 41), prinsip-prinsip panduan pengungsian internal (hal. 43 – 58) dan daftar lembaga yang berhubungan dengan pengungsi internal (59 – 64).
Bagian pertama adalah komik tentang penerapan Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal. Dengan cerita yang dikembangkan dari fakta-fakta di lapangan, komik ini memberi pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pengungsian internal seharusnya ditangani. Hal itu terutama menyangkut kewajiban-kewajiban pemerintah untuk melindungi warganegara yang sedang mengungsi.
Komik tersebut disajikan dengan gambar-gambar yang apik dan enak dinikmati alur ceritanya. Bahasa yang digunakan dalam komik ini pun adalah bahasa sehari-hari, yang pendek-pendek dan mudah dicerna oleh semua kalangan. Tidak ada kesan menggurui dalam komik ini, sehingga pesan-pesan mengenai Prinsip-Prinsip Panduan secara langsung maupun tidak langsung akan masuk ke dalam diri si pembaca. Komik ini juga kaya akan ditil-ditil, contohnya adalah gambaran dan ekspresi seorang wakil bupati yang begitu kerepotan dan salah tingkah menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengungsi dalam suatu dengar pendapat antara pengungsi dan pemerintah daerah di aula kabupaten. Dengan “membaca gambar” saja, pembaca akan dapat memahami alur cerita dan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, pembaca awam pun (khususnya pembaca yang tingkat pendidikannya rendah) dapat menikmati komik tersebut tanpa kesulitan.
Bagian kedua adalah dokumen Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal. Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal ini merupakan suatu dokumen rujukan yang mendasar bagi mereka yang berhadapan dan menangani langsung pengungsi internal. Meskipun tidak mempunyai kekuatan hukum, Prinsip-Prinsip Panduan ini sesuai dan berdasarkan kerangka hukum hak-hak asasi manusia serta Hukum Internasional Pengungsi Lintas Batas yang sudah ada. Oleh karena itu, Prinsip-Prinsip ini pada dasarnya sudah diterima secara luas sebagai prinsip-prinsip yang mendasar dan bukan hanya sebagai panduan.
Bagian ketiga adalah Daftar Beberapa Lembaga dan Organisasi Kemanusiaan yang Menaruh Perhatian pada Pengungsi Internal. Ada 62 lembaga/organisasi kemanusiaan dalam daftar ini, yaitu 20 lembaga tingkat nasional/daerah, 22 lembaga tingkat internasional yang mempunyai cabang di Indonesia, dan 20 lembaga pemerintah. Dari ke-20 lembaga pemerintah tersebut, 19 diantaranya merupakan daftar alamat Satkorlak PBP di seluruh Indonesia.
Buku Mereka yang Mengungsi: Komik tentang Prinsip-Prinsip Panduan Pengungsian Internal ini penting sebagai bahan rujukan dan pedoman dalam menangani atau mendampingi pengungsi internal. Selain itu buku ini juga dapat digunakan sebagai pemicu diskusi antara masyarakat pengungsi, masyarakat setempat, aparat pemerintah, dan aktivis organisasi non pemerintah (Ornop).
Tidak berlebihan bila komik ini patut dibaca oleh berbagai pihak, terutama pengungsi, pemerintah dan pekerja kemanusiaan. Boleh jadi, inilah komik pertama tentang pengungsian internal di Indonesia.
Sayang sekali dalam buku ini tidak ada daftar isi, sehingga untuk orientasi atau pun mencari bagian-bagian tertentu menjadi agak lambat dilakukan. Pada bagian daftar lembaga juga perlu dicantumkan alamat email dan website (kalau ada). Untuk menjangkau kalangan yang lebih luas, Bagian Pertama dari buku ini (bagian komik saja) sebaiknya dicetak terpisah dalam bentuk buku saku dan dijual dengan harga yang sangat murah atau dibagi-bagikan secara gratis kepada para pengungsi di tempat-tempat pengungsian.
Semoga komik ini tidak berhenti di sini saja, harapannya adalah agar seri-seri lanjutan mengenai pengungsi internal dapat segera terbit dan dinikmati oleh masyarakat luas di Indonesia.
Selamat menikmati komik “Mereka yang Mengungsi”.
Peresensi : Isna Hertati
Email : isnahertati@yahoo.com.sg