Pengantar
Dalam sebuah kesempatan di Semarang pada tanggal 28 November 2007 saya bertemu dengan Bambang Ponco “Chonky”. Sebagaimana layaknya kawan lama, saya dan Chonk adalah seangkatan pada Gladimula V 1988, kami berdua berdiskusi kecil tentang MAPAGAMA (MG). Oleh karena waktu yang terbatas maka tidak banyak topik diskusi di antara kami berdua, tapi secara selintas sempat menyinggung mengenai ForChonk dan pendidikan di MG.
Kata Chonk, “Sistem pendidikan di MG mesti diubah!“
“Kenapa?” tanya saya
“Karena sekarang ini sudah banyak hal yang berubah dan jauh berbeda dengan dulu,” lanjut Chonk.
Habis diskusi singkat itu kami berpisah sesuai tujuan dan aktivitas masing-masing.
Mari kita bicara mengenai SISTEM PENDIDIKAN MAPAGAMA.
Catatan: Uraian di bawah ini lebih banyak berasal dari ingatan saja karena semua dokumen MG yg saya miliki telah tidak ada lagi. Bila ada kesalahan mohon diberi masukan dan kritikan.
Apa itu SISTEM PENDIDIKAN MAPAGAMA?
Sebelum jauh bicara tentang macam-macam hal, sekarang kita bahas lebih dulu mengenai definisi dan makna kata-kata tertentu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga tahun 2005 SISTEM PENDIDIKAN berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (hal. 263).
Sedangkan MAPAGAMA, seperti yang kita tahu bersama, adalah sebuah organisasi kegiatan mahasiswa UGM yang bergerak di bidang kepencintaalaman. MG berdiri pada tahun 1972, dan sekarang ini merupakan organisasi pencinta alam di tingkat universitas. Bidang kegiatan MG antara lain adalah petualangan di alam bebas (mendaki gunung, caving, climbing, arung jeram) dan lingkungan.
Jadi secara lengkap arti kata SISTEM PENDIDIKAN MAPAGAMA adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai dengan visi-misi MG agar dapat melakukan kegiatan kepencintaalaman secara aman, dewasa, sampai di tujuan, gembira dan penuh dengan suasana kekeluargaan.
Apa tahapan di dalam sistem pendidikan MG?
Sampai pada tahun 2007 ini sistem pendidikan MG dapat dibagi menjadi ke dalam tiga tahapan secara garis besar antara lain:
1. Pendidikan dasar (Gladimula, Wajib Gunung)
2. Pendidikan menengah (PPAM, Gladimadya)
3. Pendidikan lanjut (Spesialisasi, Ekspedisi)
Apa yang dimaksud dengan PENDIDIKAN DASAR MG?
Pendidikan dasar di MG diawali dengan Gladimula dan diakhiri Wajib Gunung serta penyematan tanda keanggotaan MG sebagai Anggota Muda. Tujuan Gladimula adalah memberi pengetahuan dan ketrampilan dasar dalam melakukan kegiatan kepencintaalaman dengan tetap memperhatikan prosedur keselamatan. Dalam Gladimula ada materi kelas dan materi lapangan yang dilakukan secara berkesinambungan. Pada materi kelas Gladimula terdapat diajarkan mengenai Ke-Mapagama-an, manajemen kegiatan, mountereering, caving, climbing, lingkungan, arung jeram, SAR, fotografi, dan survival. Sedangkan pada saat materi lapangan Gladimula dipraktekkan materi-materi yang diperoleh dari materi kelas, seperti caving, climbing, orienteering, SAR dan survival. Pada hari terakhir Gladimula dilakukan sebuah perjalanan yang panjang, basah dan berat, yaitu susur sungai.
Bagi para peserta Gladimula hingga mengikuti sampai finish kemudian diterima dalam keluarga besar MG. Kewajiban pertama adalah melakukan Wajib Gunung, disamping melakukan latihan-latihan fisik rutin dan latihan di Jembatan Babarsari. Wajib Gunung merupakan praktek secara sederhana sebuah manajemen perjalanan di alam terbuka secara berkelompok kepada para lulusan Gladimula. Dalam Wajib Gunung ini ditekankan bagaimana melakukan sebuah kegiatan alam terbuka secara berkelompok, memperhatikan prosedur keamanan dan dapat mencapai tujuan secara bersama. Para peserta Wajib Gunung juga melakukan sebuah penelitian sederhana. Sebagai akhir kegiatan Wajib Gunung adalah presentasi dan pertanggungjawaban dari kegiatan tersebut di hadapan para anggota MG lainnya. Sebagai penghargaan karena telah menjalankan semua kewajiban dari sejak Gladimula dan Wajib Gunung maka mereka mendapat pengesahan sebagai Anggota Muda MG. Tentu saja sebagai seorang Anggota Muda MG mereka mempunyai hak dan kewajiban yang mesti dijalankan.
Apa yang dimaksud dengan PENDIDIKAN MENENGAH MG?
Mulai tahun 1993 (kalau tidak salah) mulai dilakukan PPAM (singkatannya apa ya?). Pendidikan menengah di MG diawali oleh PPAM dan diakhiri dengan Gladimadya. Tujuan PPAM adalah melakukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para Anggota Muda agar dapat semakin mampu dan mandiri secara perorangan dan kerjasama tim dalam kegiatan kepencintaalaman. Pada PPAM ada kurikulum, materi dan kegiatan lapangan dengan agenda dan jadwal yang ketat. Materi pada PPAM merupakan pendalaman dari materi Gladimula dan ada penambahan materi-materi baru.
Dari PPAM kemudian dilanjutkan dengan Gladimadya. Seperti Wajib Gunung, tujuan Gladimadya adalah menerapkan sebuah manajemen perjalanan di alam terbuka dengan tetap memperhatikan prosedur keselamatan, kerjasama tim, dan pencapaian tujuan. Gladimadya dapat juga disebut sebagai sebuah ekspedisi kecil, karena dalam hal ini prinsip-prinsip ekspedisi diterapkan sejak usaha dana, pengelolaan logistik dan konsumsi, perencanaan perjalanan, pelaksanaan kegiatan, dan pelaporan kegiatan. Bila seluruh rangkaian kegiatan dalam Gladimadya ini dapat diselesaikan, maka mereka akan mendapat penghargaan sebagai Anggota (Penuh) MG.
Seorang Anggota (Penuh) MG dapat menjadi Pengurus Harian MG, ikut ekspedisi atau dikirim sebagai duta resmi MG.
Apa yang dimaksud dengan PENDIDIKAN LANJUT MG?
Secara formal sebenarnya tidak ada yang disebut dengan PENDIDIKAN LANJUT di MG. Seiring dengan peningkatan kedewasaan anggota MG, maka dia dari penguasaan ketrampilan kepencintaalaman yang bermacam-macam (generalisasi) akan memilih ke arah satu atau dua hal yang ditekuni secara khusus (spesialisasi) sesuai dengan minat/bakatnya. Walaupun demikian, pemilihan ke arah penguasaan ketrampilan secara generalisasi atau spesialisasi adalah pilihan bebas dan tidak ada paksaan dari pengurus MG atau orang lainnya di MG.
Dalam pendidikan lanjut di MG akhirnya sangat tergantung pada individu masing-masing untuk maju dan berkembang penuh. Pada titik ini MG sebagai sebuah organisasi menyediakan sarana dan prasarana yg dapat digunakan semuanya dengan bebas.
Puncak dari pendidikan lanjut adalah pelaksanaan ekspedisi. Sebuah ekspedisi membutuhkan manajemen yang kompleks dan kerjasama tim yang tangguh dan terpadu. Entah jauh atau dekat jaraknya dari Yogyakarta atau pun besar atau kecil bobot ekspedisi, sebuah ekspedisi tetap merupakan buah dari sistem pendidikan MG secara keseluruhan.
Penutup
Demikianlah sedikit pembicaraan mengenai SISTEM PENDIDIKAN MG. Lalu dari keseluruhan SISTEM PENDIDIKAN MG ini apa dan mana yang perlu diubah agar lebih sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi saat kini?
Yogyakarta, 2 Desember 2007
Djuni Lethek