Kostan, Badran, Yogyakarta
Sabtu, 17 November 2007
Jam 21.04
Ini cerita kelahiran Aji dari sudut pandang papanya.
Sekarang Aji sudah berumur 5 tahun lewat beberapa hari. Kami berdua sebagai orang tua Aji telah berupaya keras utk memberi suatu kenangan yang berarti bagi Aji, kenangan yang berisi kegembiraan, berbagi, kebersamaan dan kepercayaan. Melihat Aji begitu gembira dan bahagia kemarin hari jadi terbayar lunas segala jerih payah yang kami berdua kerjakan. Mengingat kegembiraan dan kebahagiaan terhadap keberadaan Aji, saya jadi ingat waktu kelahiran Aji lima tahun yang lalu.
Saat itu minggu-minggu pertama bulan Ramadhan di bulan November 2002. Isna sudah mengandung 9 bulan dan tinggal menunggu saat-saat melahirkan yang bisa saja datang setiap waktu. Saya lupa kapan pastinya Isna masuk ke RS Tria Dipa utk melahirkan. Oh ya, rencana sebelumnya adalah Isna akan melahirkan di Bidan Yoyoh yang rumahnya dekat dengan kontrakan. Tapi karena ada masalah maka oleh Bidan Yoyoh (mungkin karena sang bayi terbelit usus dan tidak mau ambil risiko yang tidak perlu), maka Isna dikirim ke RS Tria Dipa.
Isna masuk rumah sakit dan saya bolak-balik antara rumah sakit dan rumah kontrakan. Kalau tidak salah saat itu tidak ada pembantu rumah tangga atau mungkin ada Tipah (nama pembantu), saya lupa pastinya. Tapi pada dasarnya segala sesuatunya diurus sendiri. Capek. Stress. Bingung karena hal ini merupakan sesuatu yang baru. Dan saat itu saya juga puasa Ramadhan. Maka tidak heran bila tenaga dan pikiran habis terkuras. Isna menanggung beban untuk melahirkan dan saya menanggung beban utk mengurus segala sesuatunya.
Tanggal 11 November 2002 malam Isna dijadwalkan untuk dioperasi guna melahirkan karena ada masalah, yaitu sang bayi terlilit usus. Saya menunggu di luar ruangan bersalin. Saya berjalan bolak-balik dengan tegang. Oleh karena capek dan stress, maka saya duduk di sofa di ruang tunggu kamar bersalin. Saat itu masih antri untuk operasi caesar, dan masih ada beberapa keluarga yang menunggu di luar seperti yg saya lakukan. Saya duduk terkantuk-kantuk dan tak terasa saya tertidur. Saya tidak tahu berapa lama saya tertidur, tapi rasanya singkat sekali. Saya tergeragap bangun dengan kaget. Di dalam kepala saya terdengar suara tangisan bayi yang keras sekali. Antara sadar dan tidak saya tengok kiri dan kanan sudah tidak ada orang lagi di ruang tunggu. Mungkin saat itu sekitar jam 23.00. Oleh karena tidak ada panggilan dari suster/ perawat rumah sakit maka saya tetap duduk dengan terkantuk-kantuk di sofa.
Lewat tengah malam saya bangun dan kemudian cuci muka. Saya bertanya kepada perawat ttg istri saya dan diberitahu bahwa istri saya telah melahirkan dengan operasi. Bagaimana perasaan saya saat mendengar berita itu? Lega. Itulah perasaan utama yg saya alami. Saya tidak ingat apakah saat itu saya mengalami kegembiraan seorang ayah atau kebahagiaan berumah tangga, karena kondisi saya saat itu memang dalam keadaan capek dan stress. Habis melahirkan Isna masih dirawat di RS Tria Dipa selama sehari, kemudian Isna pindah dirawat di rumah Bidan Yoyoh selama 3 atau 4 hari.
Habis dari Bidan Yoyoh, Aji dirawat di rumah kontrakan. Segala sesuatunya dikerjakan sendiri oleh kami berdua. Suatu hari Aji sakit dan kemudian didiagnosa sebagai sakit kuning. Maka Aji mesti opname di RS Tria Dipa lagi selama satu minggu. Saya kembali bolak-balik antara rumah kontrakan dan rumah sakit, sementara Isna menunggui Aji di rumah sakit. Setelah dinyatakan sembuh kemudian Aji kami bawa pulang. Tiap pagi Aji saya bawa ke lapangan bulutangkis atau di depan rumah Bidan Yoyoh, Aji saya jemur telanjang bulat bermandikan sinar matahari pagi. Saat itu badan Aji dengan guling kecilnya saja masih “gedean” gulingnya. Selama berhari-hari Aji saya angkat dengan menggunakan keranjang rotan utk dijemur bermandikan sinar matahari pagi. Sekarang ini keranjang rotan itu sudah tidak cukup lagi dengan badan Aji.
Utk selanjutnya Aji mempunyai kontak yang khusus dengan saya, mungkin dengan mamanya ada kontak khusus yang agak berbeda. Beberapa kali terbukti kalau Aji tahu bila saya akan pulang ke rumah di Jakarta, padahal saat itu saya baru memberitahukan kepada Isna dan Isna belum memberitahukan kepada Aji. Di waktu lain bahkan saya malah berniat memberi kejutan kepada Isna dan Aji, tapi kemudian Isna kirim SMS yang menandakan bahwa Aji tahu kalau papanya akan segera pulang ke rumah.
SMS tanggal 6 September 2007; 21:12:09
Aji pesan beliin teropong yg bisa memanjang. Aji sayang sama papah, mama sayang. Aji kangen, sayang juga. (Ini kata-kata didikte ama Aji waktu ditanya mo pesan apa ama papah)
SMS tanggal 8 Oktober 2007; 21:22:26
Aji pesan: Papah pulang ke sini. Papah Aji kangen.
SMS tanggal 29 Oktober 2007; 20:10:52
Aji pesan sms buat papah, katanya Aji sayang papah. Itu doang.
SMS-SMS di atas sengaja tidak saya delete. Ini semua untuk mengingatkan pada saya bahwa ada tanggung jawab di rumah dan ada orang-orang yang sayang sama saya dan begitu pula saya sayang sekali pada mereka berdua.
Sekarang Aji sudah berumur 5 tahun lebih beberapa hari. Semoga Aji dapat tumbuh dengan sehat, kuat, cerdas, berempati kepada yang lain dan mau berbagi. Saya berharap Aji jadi anak yang biasa-biasa saja.
Isna, istriku tercinta, itulah sedikit cerita mengenai Aji dari sudut pandangku. Mungkin Yy punya cerita tersendiri, kalau sempat coba tuliskan saja apa adanya.
Yang mencintai dan menyayangi Isna dan Aji,
Djuni
Tambahan:
Oleh karena pada saat kelahiran itu terlilit usus maka saya menyumbangkan sebuah nama, yaitu “Seno”. Kata “Seno” saya ambilkan dari Brontoseno atau Bima atau Bimaseno yang tidak lain anak kedua dari Pandawa Lima dari cerita pewayangan. Bima dalam cerita wayang memang lahir dengan terlilit usus. Untuk melengkapi kata “Seno” maka saya tambah dengan kata “Aji”. Arti kata “Aji” adalah sesuatu yang berharga, berdaya, mempunyai kekuatan.
Sementara itu Isna menambahkan kata “Sapta” (bahasa Sankrit yang berarti “tujuh”) dan “Ramadhana” (bulan Ramadhan, sebuah bulan paling suci bagi umat Islam. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mempunyai berkah seribu bulan).
Jadi secara lengkap nama Aji yang berbunyi: “Senoaji Sapta Ramadhana” berarti seorang anak yang berharga/berdaya yang sekuat Bima dan yang dilahirkan pada tanggal 7 di bulan paling suci bagi umat Islam.

Nama yang bagus..
Amin.. semoga Aji bisa tumbuh sehat dan kuat, selalu diberi perlindungan oleh Allah, dunia dan akhirat.. semoga selalu diberi kemudahan dalam segala kebaikan.. dan selalu mendapat limpahan rahmat sebesar-besarnyadari Allah SWT.. Amin.
Selama ini saya masih mencari arti nama “Aji”. Saya senang sekali menemukan arti nama tersebut di blog ini yg punya makna bagus.
saya pernah menemukan nama Aji menurut istilah jawa yg berarti Ratu, Dari sini saya lebih suka mengartikan sebagai pemimpin..
Jika dihubungkan sama arti yg mas Djuni dapat, sangat sesuai. Krn Pemimpin pasti berharga, berdaya dan mempunyai kekuatan. Amin
Trimakasih atas infonya
Selamat ngeblog dan teruskan mamberikan info yg berguna buat org banyak.
GoodLuck