Bagi sebagian besar orang di Mapagama (MG) pasti sudah tahu dan paham mengenai ForChonk.
Apa itu ForChonk?
ForChonk adalah sebuah media komunikasi bagi para anggota keluarga MG di Gelanggang. Dalam kenyataannya ForChonk ini menjadi media yang sangat efektif untuk melampiaskan uneg-uneg, kegundahan, sakit hati, kemarahan, kerinduan, pesan, kesedihan dll. ForChonk menjadi jurnal bersama dan bahkan menjadi catatan harian (diary) bagi para aktivis MG.
Kapan ForChonk muncul?
ForChonk muncul pertama kali selepas Gladimula V tahun 1988 oleh Angkatan Tirtawana.
Mengapa ForChonk muncul?
Seperti biasa setelah Gladimula selesai, maka orang-orang yang telah lulus Gladimula dipenuhi oleh semangat yang tinggi dan ingin melakukan banyak hal yang heroik. Angkatan Tirtawana terdiri dari banyak orang yang suka bercanda, ejek-ejekan, maki-makian, dll, seperti: Jabrik, Jendul, Chonk, Yuni Endut, Maria. Ada yang “jagoan bercanda”, dan ada juga yang sering jadi “bulan-bulanan” para “jagoan bercanda” itu. Tidak heran bila habis Gladimula penuh dengan kegiatan lapangan dan latihan harian di sekitaran Gelanggang dan jembatan Babarsari. Maka dari itu tidak heran pula dirasa perlu ada sebuah media tempat menampung uneg-uneg itu semua. Dan akhirnya dibuatlah sebuah media yang disebut ForChonk.
Apa arti ForChonk?
Orang-orang pencinta alam merasa dirinya sebagai orang yang bebas merdeka. Oleh karena itu para pencinta alam ini merasa dan bertindak di luar konvensi umum. Menjadi berbeda adalah ciri khas para pencinta alam. Akan tetapi, oleh orang lain di luar dunia kepencintaalamaan, para aktivis pencinta alam dianggap sebagai orang yang tidak kenal aturan, norak, “nyeleneh”, gila.
Jadi, sebuah media tempat pelampiasan uneg-uneg itu mesti lain daripada biasa atau normalnya. Bila oleh orang normal media itu akan disebut Buku Pesan atau Buku Forum Komunikasi atau Buku Agenda/Jurnal Organisasi; maka oleh para orang “gila” MG disebut sebagai FORCHONK. Judul itu berasal dari kata “for” dan “chonk”. Kata “for” berarti “untuk”, dan “chonk” berarti “mulut”. Kata “chonk” adalah kependekan dari kata “chongor” yang dalam bahasa Jawa merupakan sebuah kata yang sangat kasar (atau umpatan) yang berhubungan dengan perkataan/ujaran seseorang. Kata “chongor” juga adalah mulutnya kerbau/sapi.
Jadi secara keseluruhan kata “ForChonk” berarti sebuah media untuk berkata-kata atau berumpat-umpatan atau bermaki-makin. Memang sejak awal ForChong tidak dibuat guna menampung kata-kata yang sesuai dengan tata tertib bahasa atau “unggah-ungguh” berbahasa.
Apa bentuk fisik ForChonk?
Media ForChonk memanfaatkan kertas-kertas bekas atau buku-buku yang sudah tidak terpakai lagi (re-use). Hal ini tidak ada urusan dengan jargon gerakan lingkungan atau apa, tapi lebih karena “ngirit” duit. Bila ada duit yang sisa, biasanya habis untuk membiayai kegiatan-kegiatan lapangan.
Ada kalanya media Forchonk menggunakan sebuah buku tebal atau buku tulis tebal biasa yang baru. Bila ini terjadi karena ada yang “membelikan” atau menyumbang dana guna membeli buku tulis tersebut.
Apa jenis-jenis ForChonk?
Pada awalnya hanya ada satu jenis media ForChonk (ini saya sebut ForChonk reguler). ForChonk reguler berbentuk sebuah buku besar (bisa re-use atau buku tulis) yang digunakan dan ditinggal di Sekretariat MG. Seiring dengan frekuensi kegiatan lapangan yang tinggi, lalu ada sebuah buku jurnal tim khusus untuk kegiatan tersebut. ForChonk jenis ini saya sebut ForChonk kegiatan. Jenis, macam, lama dan lokasi kegiatan itu sangat bervariasi. Pernah hanya caving dua-tiga hari di Gunung Kidul sudah membuat sebuah ForChonk pada buku tulis biasa. Kemudian ada ForChonk ekspedisi yang menjadi jurnal atau catatan bersama saat berlangsungnya ekspedisi. ForChong ekspedisi ini sangat penting artinya dalam merekam aktivitas keseharian selama perjalanan tim, dan bila saatnya tiba untuk membuat laporan maka tinggal mengutip beberapa bagian dari ForChong itu.
Siapa pengguna dan pemanfaat ForChonk?
Pengguna ForChonk jelas sekali adalah para pegiat MG, bahkan UKM (seperti UKESMA/Unit P3K, Unit Selam) tetangga juga sering mengisi media ini. Sedangkan pemanfaat ForChonk biasa siapa saja yang sedang bertandang ke Sekretariat MG.
Ada berapa edisi ForChonk sejak tahun 1988 hingga sekarang ini?
Tak terhitung, karena memang tidak ada yang sempat menghitung. Ada suatu masa karena sangking aktifnya para pengguna ForChong, tidak ada satu minggu ForChong yang lama sudah penuh dan mesti membuat ForChong yang baru.
Mungkin karena terlalu banyaknya edisi-edisi ForChonk lama maka oleh para pegiat MG jaman sekarang ini (November 2007) berbendel-bendel dokumen tersebut akan dilego dan dilelang untuk usaha dana.
Apa kode etik pengguna ForChonk?
Di setiap halaman pertama ada semacam petunjuk tertulis dan sering kali disertai dengan peringatan keras bagi para pelanggar. Walaupun sederhana, petunjuk tertulis itu kemudian menjadi sebuah kode etik yang selalu ada dari bergenerasi ForChonk. Isi kode etik pengguna (penulis) ForChonk ini antara lain (oleh karena saya sudah lupa bagian ini, maka saya mohon agar kawan-kawan MG yang lain melengkapinya):
1. ….
2. ….
3. ….
4. ….
5. ….
Apa manfaat dari tumpukan dokumen-dokumen ForChonk dari tahun 1988 hingga sekarang ini?
Banyak manfaat dari adanya akumulasi ForChonk dari sejak tahun 1988 hingga saat ini, yaitu:
1. Sumber dokumen sejarah MG yang sangat kaya isi.
2. Sumber dan bahan untuk memahami kondisi psikososial dari para pegiat MG pada tahun-tahun yang bersangkutan.
3. Sumber dan bahan yang sangat otentik untuk mengenal para pegiat MG (unik, otentik).
4. Sumber dan bahan untuk mengetahui aktivitas yang terjadi di organisasi MG dan Gelanggang.
5. Media untuk tahu siapa sedang naksir siapa di MG atau di lingkungan Gelanggang.
6. Dan seterusnya.
Lalu, bagaimana memanfaatkan lebih lanjut akumulasi ForChonk itu?
Ada usulan?
Kode etik pengguna forchonk yang aku ingat :
1. Gak boleh pake tinta warna merah
2. mencantumkan nama atau identitas penulisnya
3. Tidak boleh misuh2 atau kata-kata yang jorok (kalo gak salah ingat)
4. Apa lagi ya…….?
btw, dulu pernah ada ide untuk mem-file-kan seluruh isi forchonk itu mengingat nilai historisnya sangat sangat tinggi untuk para MG’ers, tapi sepertinya jadi mengkeret karena membayangkan siapa yang akan ngetik semua teks2 itu atau mungkin menyeken (scan) lembar demi lembar itu. Yang jelas, sayang sekali ya kalau hilang atau di lego …
Atau ada gudang khusus untuk forchonk2 itu….? Jadi semacam ruang arsip mapagama…? hmm….