Tari,
Ini tulisan yg saya bikin dulu mengenai pengalaman meditasi. Oh ya, saya ikut meditasi dg aliran vipassana, tp saya tdk rajin utk mempraktekkannya. Walau “semau gue”, dampak meditasi ini luar biasa bagi saya pribadi.
Semoga berguna.
salam,
djuni
=====================================
From: Hudoyo Hupudio <hudoyo@cbn.net.id>
————————————————————
[Rekan D.P. ini seorang Muslim, beberapa tahun yang lalu pernah mengikuti Meditasi Mengenal Diri selama seminggu penuh di Rawaseneng. Rekan ini jarang menghubungi saya. Tetapi dari suratnya yang terbaru ini, terasa sekali dampak meditasi terhadap pemikiran, sikap dan
pribadinya. Agar dapat di-share dengan rekan-rekan pemeditasi lain di milis ini, di bawah ini suratnya saya forward dengan menyamarkan identitasnya. /hudoyo]
============================
Pak Hudoyo,
Ini saya kirimkan pengalaman yg saya alami selama ini dan rekapan diskusi dg seorang teman di Samarinda. Mohon masukan.
Terima kasih atas bimbingannya selama ini.
salam,
D.P.
————————–
Pak Hudoyo,
Saya berterima kasih atas bimbingannya selama ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam keseharian saya tidak teratur menjalankan meditasi. Namun dampak dari meditasi yang saya lakukan sebelum-sebelumnya sangat terasa sampai kini. Indikatornya adalah:
* Saya tidak lagi penuh dengan keinginan untuk memiliki maupun mencapai sesuatu. Hidup saya sekarang terasa biasa-biasa saja dan tidak berkekurangan, entah saya punya sesuatu atau tidak maupun entah saya mencapai sesuatu atau tidak mencapai sesuatu.
* Dalam menjalani kehidupan sehari-hari saya jadi tidak ‘ngoyo’ untuk melakukan sesuatu, ini terutama dengan hal-hal yang berhubungan dengan suatu hasil/materi. Semua terasa MENGALIR begitu saja.
* Banyak hal yang saya tidak tahu. Ada satu pengalaman spiritual yang menyadarkan saya bahwa saya tidak tahu apa-apa. Hal ini membuat segala kepercayaan/keimanan, baik kepada agama
tertentu-ideologi-kepercayaan-dan lain-lain, yang saya ikuti selama ini jadi musnah. Namun demikian ada satu hal universal yang hidup di alam semesta ini, tapi saya tidak tahu itu apa. Jadilah saya semakin pendiam, yang semula pendiam; karena saya memang tidak ada yang perlu untuk diomongkan.
* Kepekaan saya jadi sangat tinggi. Dalam ‘membaca’ hal-hal di balik peristiwa atau maksud-maksud orang-orang jadi terasa “muncul begitu saja”. Ada pemahaman yang muncul begitu saja tentang hal-hal tersembunyi dari orang-orang atau peristiwa-peristiwa tertentu yang saya alami/temui.
* Dulu sekali pernah ada ide/terasa untuk hidup dan tinggal terpencil untuk hanya menjalankan meditasi. Tapi karena saya merasa bertanggungjawab pada keluarga saya, maka ide itu tidak saya laksanakan. Adalah kewajiban saya untuk menghidupi dan menjadi tiang dalam keluarga kecil saya. Kejadian ini sempat menimbulkan konflik di dalam diri saya selama beberapa waktu, antara ide & niatan untuk “bertapa” dengan kewajiban menghidupi keluarga. Akhirnya, keputusan dan tindakan yang saya ambil adalah tetap tinggal dengan keluarga dan
bertanggung jawab penuh untuk menghidupi dan jadi tiang keluarga.
* Sampai sekarang saya tidak pernah mengalami hal-hal yang gaib sifatnya. Ada kawan saya yang bisa melihat aura keemasan dan lain-lain, mahkluk halus, mengarahkan energi, dan lain sebabagainya. Tapi hal ini karena saya juga tidak berniat untuk mengalami hal-hal yang gaib itu, shg mungkin saya tidak mengalaminya.
Sekarang ini saya sedang ngobrol dengan seorang kawan di Samarinda tentang meditasi dan pengalaman-pengalaman spiritual lainnya. Namanya _____.
Salam,
D.P.
===============================
HUDOYO:
Mas D.P. yang baik,
Terima kasih banyak atas sharing Anda tentang kehidupan batin Anda. Saya turut bersukacita membaca tentang perkembangan batin Anda.
Dalam banyak hal para pejalan spiritual patut merasa “iri” kepada Anda. Sikap batin yang tidak terpengaruh oleh tercapainya atau tidak tercapainya apa yang diinginkan, namun yang tidak pernah merasa kekurangan, sangat langka kita lihat di masyarakat modern ini.
Begitu pula tentang PENGETAHUAN. Anda sudah menyadari bahwa pengetahuan apa pun hanya memperkuat si aku. Apalagi pengetahuan tentang agama. Banyak orang mengidentifikasikan dirinya dengan agamanya, dalam upaya mencari “kebahagiaan abadi”. Tanpa menyadari bahwa sesungguhnya pengetahuan agama itu kelekatan baru bagi si aku, yang jauh lebih halus, tapi lebih kuat kurungannya. PENGETAHUAN BUKANLAH KEARIFAN.
Menajamnya kepekaan adalah sesuatu yang wajar, yang muncul dari keheningan yang meningkat.
Tentang dilema antara “mengasingkan diri dari masyarakat ramai” dan tanggung jawab dalam keluarga, syukurlah Anda telah menemukan jalan keluarnya. Dan lagi-lagi terlihat di sini bahwa aku/diri/ego Anda tidak lagi dominan.
Tentang mengalami hal-hal yang gaib dalam meditasi, ini memang jebakan baru yang merintangi jalan menuju pembebasan. Banyak pemeditasi malah merasa kecewa kalau tidak mengalami peristiwa-peristiwa yang bisa dibualkannya dalam meditasi. Tapi sekali lagi, syukurlah Anda sudah mengatasi perangkap ini.
Anda mengaku dalam keseharian tidak teratur bermeditasi. Namun, menilik dari “perkembangan batin” Anda, tampaknya hal itu tidak menjadi soal. Karena tampaknya meditsai justru sedikit-banyak telah menyatu dengan kesadaran Anda sehari-hari, mungkin tanpa Anda sadari sebagai sesuatu yang istimewa. Hanya kadang-kandang saja Anda memubutuhkan meditasi yang intensif untuk menajamkan kesadaran dan kepekaan Anda.
Anda mengaku pula bahwa “segala kepercayaan/keimanan, baik kepada agama tertentu[Islam]-ideologi-kepercayaan-dan lain-lain, yang saya ikuti selama ini jadi musnah.” Hal itu tidak perlu merisaukan, karena pada saat yang sama Anda menyatakan bahwa “ada satu hal universal yang hidup di alam semesta ini, tapi saya tidak tahu itu apa.” Sesungguhnya itulah HAKEKAT TERDALAM DARI APA YANG ADA. Tapi itu tidak bisa disebut “Tuhan”, karena kata “Tuhan” itu telah begitu sarat dibebani oleh ciptaan-ciptaan pikiran kita sendiri. Tapi Hakekat itu jauh lebih dalam daripada Tuhannya pikiran.
Sang Buddha menyatakan: “Ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak tercipta, bukan makhluk, bukan terbentuk.” Krishnamurti menyebut itu “the unknown” (yang tak dikenal), “immensity” (yang mahaluas), “benediction” (berkah), “love” (cinta), “intelligence” (kearifan); tapi ia menolak menyebutnya “Tuhan”.
Nah, begitulah, Mas D.P., semoga Anda semakin kokoh berada dalam kesadaran batin seperti yang Anda ceritakan itu. Kata Sang Buddha, “Itulah akhir dari derita (dukkha)”. Mungkin kata seorang Sufi, “Itulah makrifatullah.” Saya rasa, itu pula yang terjadi ketika Yesus bangkit dari kematian jasmani & diri/ego-nya.
Salam,
Hudoyo
=======================================
Pak Hudoyo,
Saya jadi malu kalau dikatakan sudah mencapai perkembangan spt itu. Rasanya apa yg saya alami ini adalah hal-hal yg biasa dan tdk ada yg luar biasanya. Saya kadang-kadang ingin spt kawan-kawan lain yg mengalami hal-hal “aneh”, tapi ketika keinginan itu saya amati lebih lanjut biasanya terus menghilang.
Dalam kondisi seperti saya sekarang ini saya malah kasihan dengan istri saya. Mengapa? Karena saya tidak lagi “giat” bekerja utk mencari uang. “Lha wong” punya uang atau tidak punya uang maupun bisa makan atau tidak ada yg dimakan, saya “nyantai” saja. Tapi istri saya kalau tidak punya uang utk belanja sehari-hari atau utk beli susu utk anak sudah stress sekali. Jadilah konflik dalam rumah tangga. Tapi berhubung istriku orangnya introvert dan saya juga introvert (dan lebih-lebih dengan segala pengalaman spiritual yg saya alami itu) maka tidak terjadi “perang mulut” maupun “piring terbang”
) Paling-paling ya diam-diaman sebentar dan habis itu ngobrol lagi spt biasa. Walau tidak ada pekerjaan tetap, syukur kehidupan ekonomi keluarga saya masih berkecukupan hingga kini (dalam artian tidak pernah kehabisan utk beli beras/belanja sehari-hari dan beli susu utk anak). Istri saya juga bekerja di LSM. Ada untungnya beberapa bulan hanya punya uang yg sangat pas-pasan, yaitu istriku jadi belajar “manajemen keinginan” (ini pinjam istilah dari komik Krishnamurti).
Oh ya, sekarang pikiran saya kok jadi terasa “tumpul”, telmi (telat mikir)? Kalau dulu pikiran saya kuat dan lincah, tapi juga dibarengi dengan daftar keinginan yg segunung pula. Sekarang setelah keinginan-keinginan mereda, pikiran jadi terasa “tumpul” tapi intuisi jadi meningkat. Akibat paling nyata adalah dlm pertemuan-pertemuan saya jadi tampak sbg “orang tolol” karena lambat berfikir dan berkomentar dlm diskusi tersebut. Satu hal ketidaktanggapan yg saya rasakan itu disebabkan juga karena segala sesuatu yg diributkan itu adalah hal yg kosong belaka. Jadi buat apa ikut ribut kalau hal itu malah ikut menambah daftar keributan baru. Ke”tumpul”an pikiran dan ketidaktanggapan itu kadang-kadang terasa mengganggu, namun bila perasaan itu saya amati jadi hilang.
Itu saja dulu ceritanya. Terima kasih.
salam,
djuni
Nama saya Agung Frans dari Bali. Saya memeluk agama Hindu. Secara garis besar kondisi saya sekarang sama dengan kondisi yang dialami oleh pak Djuni diatas. Persis sama. Dan masalah yang dihadapi dalam rumah tangga juga persis sama. Rasanya saya ini pengen pergi ke hutan atau ke gunung hidup sendiri. Ini mungkin saya alami setelah saya mengikuti meditasi Raja Yoga ditempat saya di Denpasar.
Salam untuk pak Djuni dan pak Hudoyo. Semoga dikedepannya saya bisa sharing pengalaman.
Agung Frans
agungfrans[at]yahoo.com
#agungkrishna: Secara garis besar kondisi saya sekarang sama dengan kondisi yang dialami oleh pak Djuni diatas. Persis sama. Dan masalah yang dihadapi dalam rumah tangga juga persis sama. Rasanya saya ini pengen pergi ke hutan atau ke gunung hidup sendiri.#
Kawan Agung Krishna, hal itu mungkin disebabkan karena dampak meditasi yang anda lakukan. Begitu tekun dan mendalamnya meditasi yang anda lakukan pada saat retret itu, sehingga tetap terbawa dalam kehidupan sehari-hari (bisa sehari dua hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan efeknya terasa). Hidup jadi terasa “melayang-layang”. Lalu apa yang anda lakukan sekarang? Bagaimana anda mengintegralkan pengalaman tersebut ke dalam kehidupan keseharian (baik pribadi, rumah tangga, dunia kerja, dan di masyarakat umumnya)?
#agungkrishna: Ini mungkin saya alami setelah saya mengikuti meditasi Raja Yoga ditempat saya di Denpasar.#
Apa itu meditasi Raja Yoga? Mohon dijelaskan ya pengalaman dan wawasannya. Trims banyak.
Saya sekarang tetap bekerja seperti biasa. Pengalaman tersebut tidak begitu berefek pada kehidupan sehari-hari saya. Fokus saya hanya kepada diri saja. Kepada beliau yang ada pada diri. Saya tidak merasa berbahagia maupun bersedih. Cuman begitu merindukan beliau…
Raja Yoga adalah salah satu jalan dalam Hindu untuk mencapai pencerahan. Saya tidak mengetahui banyak, mungkin Kawan Djuni bisa search di internet.
Saya bukan orang yang benar2 tekun dalam beryoga maupun meditasi. Pertama kalinya saya benar-benar tidak tahu bagaimana bermeditasi. Saya hanya duduk saja. Sekarang adalah yang kedua kalinya saya merasakan perasaan seperti sekarang. Pertama kalinya, pandangan begitu terang. Benda2 maupun orang terlihat berbeda (susah saya jelaskan). Ada suatu keberanian. Dan saya bisa melihat pikiran saya itu sedang berpikir. Pernah waktu bermeditasi ditulang punggung saya ada aliran hangat mengalir keatas, namun sampai dipusar. Perasaan itu hanya berlangsung selama beberapa hari.
Kinipun rasanya kondisi ini berangsur-angsur hilang…dan mungkin akan hilang lagi…
Mungkin Djuni bisa kasi tahu saya kiat untuk mempertahankan kondisi ini?
#agungkrishna: Saya sekarang tetap bekerja seperti biasa. Pengalaman tersebut tidak begitu berefek pada kehidupan sehari-hari saya.#
Tidak begitu berefek, tapi dampaknya luar biasa. Mungkin anda sekarang merasakan bahwa segala sesuatunya “klop/pas” pada tempatnya masing2. Melihat fenomena jadi lebih “clear”, shg tindakan dan arah tujuan juga jadi terasa wajar dan benar. Tapi hidup juga jadi terasa melambat, seolah-olah spt slow motion dan “bagian per bagian” dalam keseluruhan. Ada kemanunggalan dg alam semesta.
#agungkrishna: Fokus saya hanya kepada diri saja. Kepada beliau yang ada pada diri. Saya tidak merasa berbahagia maupun bersedih. Cuman begitu merindukan beliau…#
Selamat bila anda telah berjumpa dg “diri yg ada di dalam”. Dan hal itu memang “memabukkan” shg ingin mengulang dan mengulang lagi pengalaman tsb. Tapi bila kita tdk cermat, maka hal itu akan menjadi keinginan atau keserakahan bila membesar. Ini menjadi kemelekatan. Tapi bahwa anda bilang: “Cuman begitu merindukan beliau…” adalah sebuah kesadaran (Jw: eling; awaraness). Suatu saat “kerinduan” itu juga mesti musnah bila kita ingin mencapai pembebasan.
#agungkrishna: Saya bukan orang yang benar2 tekun dalam beryoga maupun meditasi.#
Sebenarnya saya juga bukan orang yg tekun bermeditasi. Kalau sedang ingin ya melakukan meditasi, tapi kalau sedang malas ya tidak ngapain2.
Walaupun demikian, pemahaman dan pengalaman yg diperoleh dlm meditasi2 sebelumnya ternyata sangat mewarnai jalan hidup saya sekarang ini.
#agungkrishna: Pertama kalinya saya benar-benar tidak tahu bagaimana bermeditasi. Saya hanya duduk saja.#
Tidak masalah apakah paham mengenai meditasi atau tidak. Bahkan dalam banyak hal pengetahuan seseorang malah menjadi penghalang yg sangat besar bagi kemajuan orang tersebut. Apa yg akan terjadi bila kita sadar bahwa kita tahu kalau kita tidak tahu segala sesuatu?
#agungkrishna: Sekarang adalah yang kedua kalinya saya merasakan perasaan seperti sekarang. Pertama kalinya, pandangan begitu terang. Benda2 maupun orang terlihat berbeda (susah saya jelaskan). Ada suatu keberanian. Dan saya bisa melihat pikiran saya itu sedang berpikir. Pernah waktu bermeditasi ditulang punggung saya ada aliran hangat mengalir keatas, namun sampai dipusar. Perasaan itu hanya berlangsung selama beberapa hari.#
Mungkin pengalaman dan pemahaman ini yg disebut ELING atau MINDFULNESS atau SATI. Kejadian ini berlangsung sangat singkat sekali. Ketika kita sadar mengalami ITU, maka pengalaman itu pun sudah BERLALU.
#agungkrishna: Kinipun rasanya kondisi ini berangsur-angsur hilang…dan mungkin akan hilang lagi…#
Mungkin yg anda maksudkan ini adalah dampak/efek dari mengalami ELING/SATI/MINDFULNESS tsb. Cobalah diamati dengan cermat.
#agungkrishna: Mungkin Djuni bisa kasi tahu saya kiat untuk mempertahankan kondisi ini?#
Tidak ada kiat. Meditasi hanyalah sebuah alat utk mencapai kesadaran penuh dan pembebasan, dan bukan tujuan itu sendiri. Saya pikir demikian halnya dengan meditasi Raja Yoga yang anda lakukan hanyalah sekedar alat. “Alat” yang saya dan anda gunakan berbeda, tapi hasilnya kok mirip dan mengarah pada tujuan yg sama. “Banyak jalan menuju Roma” begitu orang bilang. Begitulah.
Rekan Agung Frans yg baik,
Salam kenal dari saya.
Bila Anda ingin mencoba MMD (Meditasi Mengenal Diri) di Bali, ikuti saja langsung program seminggu, yang akan diadakan menyambut Nyepi yang akan datang, dari tgl 29 Februari s.d. 8 Maret 2008. Tempatnya di Brahmavihara-arama, Desa Banjar Tegeha, 14 km sebelah Barat Singaraja. Informasi lebih lanjut & pendaftaran pada: Bpk Wijaya Darma di Denpasar, HP 0812 361 3000.
Salam,
Hudoyo
Mas Djuni,
membaca uraian anda seperti kilas balik rasanya yang terjadi pada saya
pada awal ‘pencerahan’, diri ini merasa seperti ‘orang gila’, apa yang saya yakini dan imani ternyata berbeda 180 derajat.
Setelah itu ada ‘euforia’ dengan mengalami ini.
Dan setelah beberapa lama, akhirnya semua kembali ‘normal’, karena setiap rasa yang timbul selalu disadari.
Suka dan duka sudah tidak ada bedanya lagi, yang ada adalah kepasrahan total.
hanya saja saya tidak pernah ikut retret MMD bersama pak Hud, saya hanya belajar melalui milis SP, membaca statement-statement JK dan berlatih.
Kalau memang ada karma, mungkin saya bisa retret MMD.
Pak Hud dan JK sudah membukakan pintu untuk saya, selebihnya saya sendirilah yang masuk
salam,
sangwaktu
Untuk #3 Agungkrishna, sensasi hawa hangat/panas dari tulang ekor merambat sepanjang tulang punggung, bisa jadi adalah sensasi aktifnya kundalini.
Kundalini dapat aktif dengan berbagai sebab, salah satunya meditasi, meningkatnya spirituality seseorang, atau diaktifkan oleh pihak lain.